Di kalangan Nahdliyin, Gus adalah julukan bagi anak kiai yang mereka hormati . Panggilan hormat itu tetap melekat, bahkan sampai si anak sudah jadi bapak atau kakek . Begitulah, menurut Gus Dur, ada Gus Nun, Gus Mus, dan lain-lain-anpa menyebut diri sendiri.
Lain sikap hormat kalangan Nahdliyin, lain pula pandangan pemerintah Orde Baru. Yang terakhir ini tak suka dengan para Gus itu, terutama yang kritis terhadap kekuasaan.
Kekritisan Gus Dur terhadap pemerintah Orde Baru mengakibatkan ia "dikucilkan." Gus Nun sering ngomong pedas, maka dianggap musuh pemerintah juga .
Tapi , kata Gus Dur, di acara jamuan makan malam bersama tamu-tamunya, sebenarnya ada satu "Gus" lagi yang tidak disukai pemerintah .
Para tamu pun penasaran, dan menunggu Gus siapa lagi gerangan yang dimaksud .
"Gusmao...," ungkap Gus Dur menyebut nama belakang Kay Rala Xanana (sekarang Presiden Timor Leste), pemimpin Fretilin yang saat itu masih di penjara.
Selasa, 07 Juni 2011
Humor Gus Dur : Stek Tumbuhan
Di ruang perpustakaan pribadinya, sedang terjadi diskusi yang serius antara Gus Dur dengan salah seorang anaknya yang kepingin jadi anggota LKIR.
Gus Dur: "Memangnya apa yang bisa kamu sumbangkan untuk LKIR sekolahmu?"
Anak: "Sebuah penemuan dari penelitian yang saya lakukan sendiri."
Gus Dur: "Apa itu?"
Anak: "Penggabungan (stek) tiga jenis tumbuhan yang sangat berlainan spesiesnya. Dan ternyata berhasil."
Gus Dur: "Apa tiga jenis tumbuhan itu ...?"
Anak: "Kelapa, singkong, dan tebu."
Gus Dur: (terdiam, sepertinya tidak percaya) "Lalu apa yang terjadi dengan ketiga tumbuhan itu?'
Anak: "Jadi gethuk
Gus Dur: "Memangnya apa yang bisa kamu sumbangkan untuk LKIR sekolahmu?"
Anak: "Sebuah penemuan dari penelitian yang saya lakukan sendiri."
Gus Dur: "Apa itu?"
Anak: "Penggabungan (stek) tiga jenis tumbuhan yang sangat berlainan spesiesnya. Dan ternyata berhasil."
Gus Dur: "Apa tiga jenis tumbuhan itu ...?"
Anak: "Kelapa, singkong, dan tebu."
Gus Dur: (terdiam, sepertinya tidak percaya) "Lalu apa yang terjadi dengan ketiga tumbuhan itu?'
Anak: "Jadi gethuk
Humor Gus Dur : Kesatuan Umat Beragama
Guyonan lainnya dilontarkan Gus Dur saat menghadiri "Seminar wawasan kebangsaan Indonesia" di Batam. Di hadapan 100 pendeta dari seluruh propinsi Kepulauan Riau, Gus Dur menjelaskan kebersamaan harus diawali dengan sikap berbaik hati terhadap sesama.
"Oleh karena itu seluruh umat bertanggung jawab atas masa depan bangsa. Boleh berantem satu sama lain, tapi keselamatan bangsa tetap diutamakan," kata Gus Dur disambut tawa peserta.
"Oleh karena itu seluruh umat bertanggung jawab atas masa depan bangsa. Boleh berantem satu sama lain, tapi keselamatan bangsa tetap diutamakan," kata Gus Dur disambut tawa peserta.
Senin, 06 Juni 2011
Cinta Ayah
Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, anak perempuan yang sedang bekerja diperantauan, anak perempuan yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, anak perempuan yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya…..akan sering merasa kangen sekali dengan ibunya.
Lalu bagaimana dengan Ayah?
Mungkin karena ibu lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari, tapi tahukah kamu, jika ternyata ayah-lah yang mengingatkan Ibu untuk menelponmu?
Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Ibu-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng, tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Ayah bekerja dan dengan wajah lelah Ayah selalu menanyakan pada Ibu tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?
Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil…… Ayah biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda. Dan setelah Ayah mengganggapmu bisa, Ayah akan melepaskan roda bantu di sepedamu…
Kemudian Ibu bilang : “Jangan dulu Ayah, jangan dilepas dulu roda bantunya” ,
Ibu takut putri manisnya terjatuh lalu terluka….
Tapi sadarkah kamu?
Bahwa Ayah dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.
Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Ibu menatapmu iba.. Tetapi Ayah akan mengatakan dengan tegas : “Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang”
Tahukah kamu, Ayah melakukan itu karena Ayah tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?
Saat kamu sakit pilek, Ayah yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata :
“Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!”.
Berbeda dengan Ibu yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut.
Ketahuilah, saat itu Ayah benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.
Ketika kamu sudah beranjak remaja….
Kamu mulai menuntut pada Ayah untuk dapat izin keluar malam, dan Ayah bersikap tegas dan mengatakan: “Tidak boleh!”.
Tahukah kamu, bahwa Ayah melakukan itu untuk menjagamu?
Karena bagi Ayah, kamu adalah sesuatu yang sangat – sangat luar biasa berharga..
Setelah itu kamu marah pada Ayah, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu…
Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah Ibu….
Tahukah kamu, bahwa saat itu Ayah memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya,
Bahwa Ayah sangat ingin mengikuti keinginanmu, Tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu?
Ketika saat seorang cowok mulai sering menelponmu, atau bahkan datang ke rumah untuk menemuimu,
Ayah akan memasang wajah paling cool sedunia…. :’)
Ayah sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang ngobrol berdua di ruang tamu..
Sadarkah kamu, kalau hati Ayah merasa cemburu?
Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan Ayah melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya.
Maka yang dilakukan Ayah adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir…
Dan setelah perasaan khawatir itu berlarut – larut…
Ketika melihat putri kecilnya pulang larut malam hati Ayah akan mengeras dan Ayah memarahimu.. .
Sadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti Ayah akan segera datang?
“Bahwa putri kecilnya akan segera pergi meninggalkan Ayah”
Setelah lulus SMA, Ayah akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang Sarjana.
Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Ayah itu semata – mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti…
Tapi toh Ayah tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan Ayah..
Ketika kamu menjadi gadis dewasa…..Dan kamu harus pergi kuliah dikota lain…
Ayah harus melepasmu di bandara.
Tahukah kamu bahwa badan Ayah terasa kaku untuk memelukmu?
Ayah hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini – itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. .
Padahal Ayah ingin sekali menangis seperti Ibu dan memelukmu erat-erat.
Yang Ayah lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata “Jaga dirimu baik-baik ya sayang”.
Ayah melakukan itu semua agar kamu KUAT…kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.
Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Ayah.
Ayah pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.
Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Ayah tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan….
Kata-kata yang keluar dari mulut Ayah adalah : “Tidak….. Tidak bisa!”
Padahal dalam batin Ayah, Ia sangat ingin mengatakan “Iya sayang, nanti Ayah belikan untukmu”.
Tahukah kamu bahwa pada saat itu Ayah merasa gagal membuat anaknya tersenyum?
Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana.
Ayah adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu.
Ayah akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat “putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang”
Sampai saat seorang teman Lelakimu datang ke rumah dan meminta izin pada Ayah untuk mengambilmu darinya.
Ayah akan sangat berhati-hati memberikan izin..
Karena Ayah tahu……
Bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.
Dan akhirnya….
Saat Ayah melihatmu duduk di Panggung Pelaminan bersama seseorang Lelaki yang di anggapnya pantas menggantikannya, Ayah pun tersenyum bahagia…..
Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Ayah pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis?
Ayah menangis karena papa sangat berbahagia, kemudian Ayah berdoa…..
Dalam lirih doanya kepada Tuhan, Ayah berkata:
“Ya Allah, ya Tuhanku …..Putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita dewasa yang cantik….
Bahagiakanlah ia bersama suaminya…”
Setelah itu Ayah hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk…
Ayah telah menyelesaikan tugasnya menjagamu …..
Ayah, Bapak, atau Abah kita…Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat…
Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis…
Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. .
Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa “KAMU BISA” dalam segala hal..
Lalu bagaimana dengan Ayah?
Mungkin karena ibu lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari, tapi tahukah kamu, jika ternyata ayah-lah yang mengingatkan Ibu untuk menelponmu?
Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Ibu-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng, tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Ayah bekerja dan dengan wajah lelah Ayah selalu menanyakan pada Ibu tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?
Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil…… Ayah biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda. Dan setelah Ayah mengganggapmu bisa, Ayah akan melepaskan roda bantu di sepedamu…
Kemudian Ibu bilang : “Jangan dulu Ayah, jangan dilepas dulu roda bantunya” ,
Ibu takut putri manisnya terjatuh lalu terluka….
Tapi sadarkah kamu?
Bahwa Ayah dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.
Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Ibu menatapmu iba.. Tetapi Ayah akan mengatakan dengan tegas : “Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang”
Tahukah kamu, Ayah melakukan itu karena Ayah tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?
Saat kamu sakit pilek, Ayah yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata :
“Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!”.
Berbeda dengan Ibu yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut.
Ketahuilah, saat itu Ayah benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.
Ketika kamu sudah beranjak remaja….
Kamu mulai menuntut pada Ayah untuk dapat izin keluar malam, dan Ayah bersikap tegas dan mengatakan: “Tidak boleh!”.
Tahukah kamu, bahwa Ayah melakukan itu untuk menjagamu?
Karena bagi Ayah, kamu adalah sesuatu yang sangat – sangat luar biasa berharga..
Setelah itu kamu marah pada Ayah, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu…
Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah Ibu….
Tahukah kamu, bahwa saat itu Ayah memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya,
Bahwa Ayah sangat ingin mengikuti keinginanmu, Tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu?
Ketika saat seorang cowok mulai sering menelponmu, atau bahkan datang ke rumah untuk menemuimu,
Ayah akan memasang wajah paling cool sedunia…. :’)
Ayah sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang ngobrol berdua di ruang tamu..
Sadarkah kamu, kalau hati Ayah merasa cemburu?
Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan Ayah melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya.
Maka yang dilakukan Ayah adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir…
Dan setelah perasaan khawatir itu berlarut – larut…
Ketika melihat putri kecilnya pulang larut malam hati Ayah akan mengeras dan Ayah memarahimu.. .
Sadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti Ayah akan segera datang?
“Bahwa putri kecilnya akan segera pergi meninggalkan Ayah”
Setelah lulus SMA, Ayah akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang Sarjana.
Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Ayah itu semata – mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti…
Tapi toh Ayah tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan Ayah..
Ayah harus melepasmu di bandara.
Tahukah kamu bahwa badan Ayah terasa kaku untuk memelukmu?
Ayah hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini – itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. .
Padahal Ayah ingin sekali menangis seperti Ibu dan memelukmu erat-erat.
Yang Ayah lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata “Jaga dirimu baik-baik ya sayang”.
Ayah melakukan itu semua agar kamu KUAT…kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.
Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Ayah.
Ayah pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.
Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Ayah tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan….
Kata-kata yang keluar dari mulut Ayah adalah : “Tidak….. Tidak bisa!”
Padahal dalam batin Ayah, Ia sangat ingin mengatakan “Iya sayang, nanti Ayah belikan untukmu”.
Tahukah kamu bahwa pada saat itu Ayah merasa gagal membuat anaknya tersenyum?
Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana.
Ayah adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu.
Ayah akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat “putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang”
Sampai saat seorang teman Lelakimu datang ke rumah dan meminta izin pada Ayah untuk mengambilmu darinya.
Ayah akan sangat berhati-hati memberikan izin..
Karena Ayah tahu……
Bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.
Dan akhirnya….
Saat Ayah melihatmu duduk di Panggung Pelaminan bersama seseorang Lelaki yang di anggapnya pantas menggantikannya, Ayah pun tersenyum bahagia…..
Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Ayah pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis?
Ayah menangis karena papa sangat berbahagia, kemudian Ayah berdoa…..
Dalam lirih doanya kepada Tuhan, Ayah berkata:
“Ya Allah, ya Tuhanku …..Putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita dewasa yang cantik….
Bahagiakanlah ia bersama suaminya…”
Setelah itu Ayah hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk…
Ayah telah menyelesaikan tugasnya menjagamu …..
Ayah, Bapak, atau Abah kita…Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat…
Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis…
Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. .
Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa “KAMU BISA” dalam segala hal..
Kisah Pohon Bambu
Dahulu kala ada seorang pemuda yang memutuskan untuk menyerah, ia dipecat dari pekerjaannya, ditinggalkan istri yang dicintainya,
dan mulai memalingkan dirinya dari Tuhan. Ia bahkan berfikir untuk mengakhiri hidupnya. Sambil berjalan ke dalam hutan yang rimbun
untuk merenungi nasibnya, ia berkata kepada Sang Pencipta, “Ya Tuhan dapatkan Engkau memberi satu alasan kuat sebelum aku
mengakhiri hidupku?”
Lalu tiba2 Hutan Lebat itu yang malah bersuara, “Hai manusia, mengapa engkau mengutuk dirimu sendiri dan Tuhanmu?”.
lalu anak muda balik bertanya, “Wahai Hutan, apakah engkau dapat memberiku alasan mengapa aku harus terus hidup?”.
Sang Hutan itu menjawab, “Tentu saja. wahai anak muda, apakah engkau melihat sekeliling tanaman dan pohon-pohon bambu itu?”.
“Ya.” jawab anak muda itu.
Sang Hutan berkata, “Ketika saya menanam benih tanaman dan bambu, saya sangat memperhatikan mereka.
Saya meminta sang surya untuk menyinari dan awan untuk memberikan hujan yang cukup.”
“Tanaman hijau lainnya tumbuh dengan pesat memadati hutan, namun tidak ada yang tumbuh dari benih bambu yang aku tanam,
namun aku tidak menyerah. Pada tahun kedua tanaman hijau terus tumbuh dengan suburnya, namun sekali lagi benih bambu tidak bertumbuh.
Namun aku tetap tak mau menyerah.”
“Pada tahun ketiga dan keempat hal yang sama terjadi, di mana pohon yang lainnya semakin lebat. Namun aku tetap tak mau berhenti.”
“Dan keajaiban mulai muncul pada tahun kelima, benih bambu mulai muncul dari permukaan tanah. Sayangnya jika dibandingkan dengan
tumbuhan hijau lainnya, pertumbuhan ini sangat kecil dan tak berarti. Namun aku tetap meminta awan untuk terus menyirami dan Surya
untuk terus menyinarinya.”
“Dan keajaiban baru benar-benar terjadi pada enam minggu berikutnya, secara tak terduga pohon bambu itu pohon bambu itu telah
berdiri tinggi menjulang lebih dari 30 meter. Dan ternyata, selama lima tahun sang benih bambu itu tumbuh ke bawah untuk memperkuat
akarnya menghujam ke dalam tanah. karena untuk pertumbuhan yang besar diperlukan akar yang kuat.”
“Demikian juga dengan kegagalan dan kemalangan yang kamu alami selama ini, hal tersebut bermaksud untuk mempersiapkan dirimu
untuk menjadi kuat dan kokoh. aku saja tidak akan berhenti berkarya terhadap pohon bambu, apalagi Tuhan terhadap kamu.
Jangan membandingkan dirimu dengan orang lain, masing-masing orang telah dibentuk berbeda oleh Sang Pencipta.
Akan tiba waktunya kamu akan tumbuh seperti pohon bambu tersebut.”
dan mulai memalingkan dirinya dari Tuhan. Ia bahkan berfikir untuk mengakhiri hidupnya. Sambil berjalan ke dalam hutan yang rimbun
untuk merenungi nasibnya, ia berkata kepada Sang Pencipta, “Ya Tuhan dapatkan Engkau memberi satu alasan kuat sebelum aku
mengakhiri hidupku?”
Lalu tiba2 Hutan Lebat itu yang malah bersuara, “Hai manusia, mengapa engkau mengutuk dirimu sendiri dan Tuhanmu?”.
lalu anak muda balik bertanya, “Wahai Hutan, apakah engkau dapat memberiku alasan mengapa aku harus terus hidup?”.
Sang Hutan itu menjawab, “Tentu saja. wahai anak muda, apakah engkau melihat sekeliling tanaman dan pohon-pohon bambu itu?”.
“Ya.” jawab anak muda itu.
Sang Hutan berkata, “Ketika saya menanam benih tanaman dan bambu, saya sangat memperhatikan mereka.
Saya meminta sang surya untuk menyinari dan awan untuk memberikan hujan yang cukup.”
“Tanaman hijau lainnya tumbuh dengan pesat memadati hutan, namun tidak ada yang tumbuh dari benih bambu yang aku tanam,
namun aku tidak menyerah. Pada tahun kedua tanaman hijau terus tumbuh dengan suburnya, namun sekali lagi benih bambu tidak bertumbuh.
Namun aku tetap tak mau menyerah.”
“Pada tahun ketiga dan keempat hal yang sama terjadi, di mana pohon yang lainnya semakin lebat. Namun aku tetap tak mau berhenti.”
“Dan keajaiban mulai muncul pada tahun kelima, benih bambu mulai muncul dari permukaan tanah. Sayangnya jika dibandingkan dengan
tumbuhan hijau lainnya, pertumbuhan ini sangat kecil dan tak berarti. Namun aku tetap meminta awan untuk terus menyirami dan Surya
untuk terus menyinarinya.”
“Dan keajaiban baru benar-benar terjadi pada enam minggu berikutnya, secara tak terduga pohon bambu itu pohon bambu itu telah
berdiri tinggi menjulang lebih dari 30 meter. Dan ternyata, selama lima tahun sang benih bambu itu tumbuh ke bawah untuk memperkuat
akarnya menghujam ke dalam tanah. karena untuk pertumbuhan yang besar diperlukan akar yang kuat.”
“Demikian juga dengan kegagalan dan kemalangan yang kamu alami selama ini, hal tersebut bermaksud untuk mempersiapkan dirimu
untuk menjadi kuat dan kokoh. aku saja tidak akan berhenti berkarya terhadap pohon bambu, apalagi Tuhan terhadap kamu.
Jangan membandingkan dirimu dengan orang lain, masing-masing orang telah dibentuk berbeda oleh Sang Pencipta.
Akan tiba waktunya kamu akan tumbuh seperti pohon bambu tersebut.”
Pembawa Air dan Tempayan Retak
Cerita Motivasi kuno dari daratan Cina yang terus bermakna di era modern….
Pembawa Air dan tempayan retak
Ungkapan bijak orang cina
Seorang ibu cina yang sudah tua mempunyai 2 tempayan, yang dipikul di pundaknya dengan sebatang bambu.
Salah 1 dari tempayan itu retak, sedangkan yang 1 nya tak bercela dan selalu memuat air hingga penuh.
Setibanya di rumah setelah menempuh perjalanan panjang dari sungai, air yang tinggal di tempayan retak tinggal separuh.
Selama 2 tahun hal ini terus berlangsung setiap hari, dimana ibu itu hanya membawa pulang air hanya satu setengah tempayan.
Tentunya tempayan yang utuh sangat bangga akan pencapaiannya.
Namun tempayan yang retak merasa malu akan kekurangannnya dan sedih sebab hanya bias membawa setengah dari kewajibannya.
Setelah 2 tahun yang dianggapnya sebagai kegagalan, akhirnya dia berbicara pada ibu tua di dekat sungai.
“Aku malu sebab air bocor melalui bagian tubuhku yang retak di sepanjang jalan menuju rumahmu.”
Ibu itu tersenyum, “Tidakkah kau lihat bunga beraneka warna di jalur yang kau lalui, namun tidak ada di jalur yang satunya?
Aku sudah tahu kekuranganmu, jadi aku menabur benih bunga di jalurmu dan setiap hari Dalam perjalanan pulang kau menyirami benih-benih itu
Selama 2 tahun aku bisa memetik bunga-bunga cantik untuk menghias meja.
Kalau kau tidak seperti itu, maka rumah ini tidak seasri seperti ini sebab tidak ada bunga.”
Kita semua mempunyai kekurangan masing-masing…..
Namun kekurangan dan keretakan itulah yang menjadikan hidup kita bersama menyenangkan dan memuaskan.
Kita harus menerima setiap orang apa adanya dan mencari yang terbaik dalam diri mereka.
Rekan-rekan sesama tempayan yang retak,,
Semoga hari kalian menyenangkan.
Jangan lupa mencium wangi bunga-bunga di jalur kalian..
Sungguh Inspiratif dan penuh motivasi… Semoga Kisah di atas menjadi semangat hidup kita dalam menjalankan segalah tugas dan tanggung jawab.. Semoga bermanfaat..
Pembawa Air dan tempayan retak
Ungkapan bijak orang cina
Seorang ibu cina yang sudah tua mempunyai 2 tempayan, yang dipikul di pundaknya dengan sebatang bambu.
Salah 1 dari tempayan itu retak, sedangkan yang 1 nya tak bercela dan selalu memuat air hingga penuh.
Setibanya di rumah setelah menempuh perjalanan panjang dari sungai, air yang tinggal di tempayan retak tinggal separuh.
Selama 2 tahun hal ini terus berlangsung setiap hari, dimana ibu itu hanya membawa pulang air hanya satu setengah tempayan.
Tentunya tempayan yang utuh sangat bangga akan pencapaiannya.
Namun tempayan yang retak merasa malu akan kekurangannnya dan sedih sebab hanya bias membawa setengah dari kewajibannya.
Setelah 2 tahun yang dianggapnya sebagai kegagalan, akhirnya dia berbicara pada ibu tua di dekat sungai.
“Aku malu sebab air bocor melalui bagian tubuhku yang retak di sepanjang jalan menuju rumahmu.”
Ibu itu tersenyum, “Tidakkah kau lihat bunga beraneka warna di jalur yang kau lalui, namun tidak ada di jalur yang satunya?
Aku sudah tahu kekuranganmu, jadi aku menabur benih bunga di jalurmu dan setiap hari Dalam perjalanan pulang kau menyirami benih-benih itu
Selama 2 tahun aku bisa memetik bunga-bunga cantik untuk menghias meja.
Kalau kau tidak seperti itu, maka rumah ini tidak seasri seperti ini sebab tidak ada bunga.”
Kita semua mempunyai kekurangan masing-masing…..
Namun kekurangan dan keretakan itulah yang menjadikan hidup kita bersama menyenangkan dan memuaskan.
Kita harus menerima setiap orang apa adanya dan mencari yang terbaik dalam diri mereka.
Rekan-rekan sesama tempayan yang retak,,
Semoga hari kalian menyenangkan.
Jangan lupa mencium wangi bunga-bunga di jalur kalian..
Sungguh Inspiratif dan penuh motivasi… Semoga Kisah di atas menjadi semangat hidup kita dalam menjalankan segalah tugas dan tanggung jawab.. Semoga bermanfaat..
Rabu, 01 Juni 2011
Anak Penyedia Batu
Kisah ini bermula ketika saya menyempatkan diri berkunjung ke sebuah daerah terpencil di Jawa Tengah.
Dalam perjalanan, saya menjumpai seorang anak berpakaian kumal yang bekerja sebagai penyedia batu. Sehari-hari bocah itu harus bekerja mengangkat bongkahan-bongkahan batu yang besar, dan berjalan kaki mengantarkannya ke suatu tempat yang berjarak tiga kilometer dari lokasi pengambilan batu.
Saya terkesan melihat cara bocah itu bekerja. Apalagi setelah mengetahui, bahwa upaj yang diperolehnya sangat minim. Bayangkan, untuk sekali bolak-balik (6 kilometer), bocah itu hanya mendapatkan upah 50 rupiah!
Yang lebih menarik, semua kerja berat itu ia lakukan dengan senang hati, tanpa keluh kesah tergambar di wajahnya. Dengan rajin, anak lelaki itu mengangkat batu-batu besar, berjalan tiga kilo, balik lagi sejauh tiga kilo… mengangkat batu selanjutnya, berjalan lagi… dan seterusnya.
Sesekali terdengar siul riangnya, saat tangan kurusnya memasukkan sekeping uang logam lima puluhan ke kantong (Tiba-tiba saya teringat anak-anak lain di Jakarta, yang sering segan menggenggam keeping uang yang sama).
Rasa iba saya menguak. Saya tawari dia tempat tinggal dan kesempatan sekolah di Jakarta. Anak lelaki itu menyambut dengan gembira.
Begitulah… setelah berpamitan dengan ibunya, anak itu memulai kehidupannya di Jakarta.
Tahun demi tahun berlalu… bocah lelaki itu menyelesaikan tahap-tahap pendidikannya dengan sangat baik. Ia bahkan selalu mendapatkan rangking tiga besar di kelas. Secara rutin, saya selalu meminta dia untuk tidak lupa mengirim surat, dan memberi berita baik pada ibunya.
Anak lelaki itu pun mulai tumbuh remaja, namun ia tak pernah berubah. Selalu saja ada yang dikerjakannya di rumah. Mulai pekerjaan dapur, sampai menyapu. Meski di tempat tinggal kami, hal-hal seperti itu sudah ada yang mengurus.
Sampai akhirnya bocah lelaki itu berhasil lulus dengan memuaskan dari perguruan tinggi negeri tempat ia belajar. Saya menyambut keberhasilan itu dengan rasa haru yang dalam, dan memintanya segera mengabarkan ibunya berita baik ini.
Sekarang, bocah lelaki itu telah menjadi seorang pengusaha yang sukses dan hidup mapan. Namun kerendahan hati, dan sifat suka bekerjanya tak berubah. Ia masih ringan tangan dan selalu berusaha membantu.
Meski sudah menjadi ‘orang’, setiap kali ke rumah… dengan santai ia menggulung lengan bajunya dan mulai mencuci piring, menyapu, atau sekedar ikut membereskan pekerjaan rumah.
Hal lain yang sangat menghibur hati saya, adalah baktinya pada Ibu yang melahirkannya. Ia tak pernah lupa menelepon saya, untuk menceritakan tentang ibunya, dan memberi ‘kabar baik’ dengan nada gembira.
“Alhamdulillah, Pak, saya sudah belikan Ibu rumah.” Atau, “Pak Houtman? Alhamdulillah Ibu baik. Saya sudah belikan Ibu sawah, Pak!” Dan seterusnya.
Dan setiap kali dia menelepon, saya tahu… lelaki itu tak pernah melupakan ibunya!
(Seperti yang diceritakan Bpk Houtman Z. Arifin)
Pelangi Nurani (Asma Nadia)
Dalam perjalanan, saya menjumpai seorang anak berpakaian kumal yang bekerja sebagai penyedia batu. Sehari-hari bocah itu harus bekerja mengangkat bongkahan-bongkahan batu yang besar, dan berjalan kaki mengantarkannya ke suatu tempat yang berjarak tiga kilometer dari lokasi pengambilan batu.
Saya terkesan melihat cara bocah itu bekerja. Apalagi setelah mengetahui, bahwa upaj yang diperolehnya sangat minim. Bayangkan, untuk sekali bolak-balik (6 kilometer), bocah itu hanya mendapatkan upah 50 rupiah!
Yang lebih menarik, semua kerja berat itu ia lakukan dengan senang hati, tanpa keluh kesah tergambar di wajahnya. Dengan rajin, anak lelaki itu mengangkat batu-batu besar, berjalan tiga kilo, balik lagi sejauh tiga kilo… mengangkat batu selanjutnya, berjalan lagi… dan seterusnya.
Sesekali terdengar siul riangnya, saat tangan kurusnya memasukkan sekeping uang logam lima puluhan ke kantong (Tiba-tiba saya teringat anak-anak lain di Jakarta, yang sering segan menggenggam keeping uang yang sama).
Rasa iba saya menguak. Saya tawari dia tempat tinggal dan kesempatan sekolah di Jakarta. Anak lelaki itu menyambut dengan gembira.
Begitulah… setelah berpamitan dengan ibunya, anak itu memulai kehidupannya di Jakarta.
Tahun demi tahun berlalu… bocah lelaki itu menyelesaikan tahap-tahap pendidikannya dengan sangat baik. Ia bahkan selalu mendapatkan rangking tiga besar di kelas. Secara rutin, saya selalu meminta dia untuk tidak lupa mengirim surat, dan memberi berita baik pada ibunya.
Anak lelaki itu pun mulai tumbuh remaja, namun ia tak pernah berubah. Selalu saja ada yang dikerjakannya di rumah. Mulai pekerjaan dapur, sampai menyapu. Meski di tempat tinggal kami, hal-hal seperti itu sudah ada yang mengurus.
Sampai akhirnya bocah lelaki itu berhasil lulus dengan memuaskan dari perguruan tinggi negeri tempat ia belajar. Saya menyambut keberhasilan itu dengan rasa haru yang dalam, dan memintanya segera mengabarkan ibunya berita baik ini.
Sekarang, bocah lelaki itu telah menjadi seorang pengusaha yang sukses dan hidup mapan. Namun kerendahan hati, dan sifat suka bekerjanya tak berubah. Ia masih ringan tangan dan selalu berusaha membantu.
Meski sudah menjadi ‘orang’, setiap kali ke rumah… dengan santai ia menggulung lengan bajunya dan mulai mencuci piring, menyapu, atau sekedar ikut membereskan pekerjaan rumah.
Hal lain yang sangat menghibur hati saya, adalah baktinya pada Ibu yang melahirkannya. Ia tak pernah lupa menelepon saya, untuk menceritakan tentang ibunya, dan memberi ‘kabar baik’ dengan nada gembira.
“Alhamdulillah, Pak, saya sudah belikan Ibu rumah.” Atau, “Pak Houtman? Alhamdulillah Ibu baik. Saya sudah belikan Ibu sawah, Pak!” Dan seterusnya.
Dan setiap kali dia menelepon, saya tahu… lelaki itu tak pernah melupakan ibunya!
(Seperti yang diceritakan Bpk Houtman Z. Arifin)
Pelangi Nurani (Asma Nadia)
Langganan:
Postingan (Atom)






