Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 November 2013

KEADAAN ORANG MUKMIN KETIKA AKAN MENINGGAL





Dalam sebuah hadits disebutkan :
" Orang mukmin apabila akan meninggal , maka dia didatangi malaikat_malaikat dari langit yang wajah mereka bersinar bagaikan matahari dengan membawa kain dari surga dan pengharum dari surga . Mereka duduk didekat orang mukmin yang hendak meninggal tersebut , berbaris panjang sepanjang penglihatan pandangan . Kemudian datanglah malaikat maut dan duduk dipinggir kepalanya , lalu berkata :

" Wahai jiwa { ruh } yang tenang , keluarlah dan kembalilah kepada ampunan dan keridhoan Alloh . "
[ QS.Al_Fajr : 27_28 ]

rASULULLAH Shallallaahu 'Alayhi Wa Sallam melanjutkan sabdanya :
" Ruh itu lalu keluar dan meluncur keluar dari badannya dengan cepat sebagaimana setetes air mengalir keluar dari tempat minuman .
Para malaikat yang mendatanginya tersebut mengambilnya lalu meletakkannya di dalam kain kafan yang mereka bawa dari surga dan menebarkan bau harum seperti bau minyak misik ."

Rasulullah Shallallaahu 'Alayhi Wa Sallam bersabda :
" Para malaikat itu membawanya naik keatas , dan setiap malaikat yang menjumpai pasti bertanya :
" Bau harum apakah ini ?" .
Para malaikat itu kemudian menjawab :
" Ini bau harum ruh Fulan Bin Fulan { dengan menyebut nama orang yang meninggal tadi } . "

Apabila mereka telah sampai ke langit , mereka meminta dibukakan pintunya , lalu mereka masuk hingga langit ketujuh , dan disetiap langit ada malaikat_malaikat yang ikut mengantarkannya hingga sampai di langit ketujuh .
Sesampai disana , maka ada suara yang berseru :
" Tulislah buku catatan ruh mayat ini ditempat yang tinggi , lalu kembalikanlah ia ke bumi , sebab ia diciptakan dari tanah . "

Sebagaimana dijelaskan Alloh Subhaanahu Wa Ta'aalaa dalam Firman_NYA :
" Dari bumi { tanah } itulah Kami menciptakan kaum , dan kepadanya Kami akan mengembalika kaum dan dari padanya Kami akan mengeluarkan kaum pada kali yang lain . "
[ QS.Thoha : 55 ]

Rasulullah bersabda :
" Para malaikat itu kemudian mengembalikan ruh itu ke jasadnya di kuburannya semula , lalu datanglah dua malaikat yang membuatnya ketakutan . Dua malaikat itu mendudukkan si mayat dan berkata kepadanya :

- Siapa Tuhanmu ?
- Apa agamamu ?
- Apa panutanmu ?
- Apa kiblatmu ?
- Apa pendapatmu tentang seorang laki_laki yang diutus kepada kalian ?

Mayat itu menjawab :

- Aloh adalah Tuhanku
- Islam adalah agamaku
- Al Qur'an adalah panutanku
- Ka'bah adalah kiblatku
- Orang laki_laki yang diutus kepada kami adalah Muhammad , dia seorang utusan Alloh yang diturunkan kepadanya kitab Al Qur'an , aku beriman kepadanya dan membenarkannya .

Sesudah itu ada suara dari langit berseru :
" Benar apa yang dikatakan hamba_KU , hamparkanlah hamparan dari surga , berikanlah pakaian dari surga kepadanya , dan bukakanlah satu pintu surga untuknya . "

Kemudian bau surga dan nikmatnya sampai kepadanya dan diperluas kuburnya seluas jangkauan mata memandang .

Rasulullah Shallallaahu 'Alayhi Wa Sallam bersabda :
" Sesudah itu datanglah seorang laki_laki yang berwajah tampan dan berpakaian bagus serta harum baunya , berkata kepadanya :
' Bersenang_senanglah kamu dengan segala kesenangan yang menyenangkanmu , ini adalah hari yang telah dijanjikan kepadamu .'
Mayat itu bertanya :
' Siapakah kamu ini ? Semoga Alloh merahmatimu , saya belum pernah melihat orang setampan kamu di dunia .'
Lalu oarang laki_laki itu menjawab :
' Aku adalah amal baikmu . '
Mayat itu berkata :
' Ya , Tuhanku . . . apakah kiamat telah tiba sehingga saya bisa bertemu kembali dengan keluargaku ? ' " 



Dikutip dari : DAQAIQUL AKHBAR
Sumber : https://www.facebook.com/photo.php?fbid=418727564874456&set=a.311692645577949.71283.100002116473919&type=1&theater

Minggu, 23 Juni 2013

BEGINILAH MEREKA MENGHANCURKAN KITA

Ibu Guru berkerudung rapi tampak bersemangat di depan kelas sedang mendidik murid-muridnya dalam pendidikan Syari’at Islam. Di tangan kirinya ada kapur, di tangan kanannya ada penghapus. Ibu Guru berkata, “Saya punya permainan. Caranya begini, di tangan kiri saya ada kapur, di tangan kanan ada penghapus.

Jika saya angkat kapur ini, maka berserulah “Kapur!”, jika saya angkat penghapus ini, maka berserulah “Penghapus!” Murid muridnya pun mengerti dan mengikuti. Ibu Guru mengangkat silih berganti antara tangan kanan dan tangan kirinya, kian lama kian cepat.

Beberapa saat kemudian sang guru kembali berkata, “Baik sekarang perhatikan. Jika saya angkat kapur, maka berserulah “Penghapus!”, jika saya angkat penghapus, maka katakanlah “Kapur!”. Dan permainan diulang kembali.

Maka pada mulanya murid-murid itu keliru dan kikuk, dan sangat sukar untuk mengubahnya. Namun lambat laun, mereka sudah biasa dan tidak lagi kikuk. Selang beberapa saat, permainan berhenti. Sang guru tersenyum kepada murid-muridnya.

“Anak-anak, begitulah ummat Islam. Awalnya kalian jelas dapat membedakan yang haq itu haq, yang bathil itu bathil. Namun kemudian, musuh musuh ummat Islam berupaya melalui berbagai cara, untuk menukarkan yang haq itu menjadi bathil, dan sebaliknya.

Pertama-tama mungkin akan sukar bagi kalian menerima hal tersebut, tetapi karena terus disosialisasikan dengan cara-cara menarik oleh mereka, akhirnya lambat laun kalian terbiasa dengan hal itu. Dan kalian mulai dapat mengikutinya. Musuh-musuh kalian tidak pernah berhenti membalik dan menukar nilai dan etika.”

“Keluar berduaan, berkasih-kasihan tidak lagi sesuatu yang pelik, zina tidak lagi jadi persoalan, pakaian seksi menjadi hal yang lumrah, sex sebelum nikah menjadi suatu hiburan dan trend, materialistik kini menjadi suatu gaya hidup, korupsi menjadi kebanggaan dan lain lain. Semuanya sudah terbalik. Dan tanpa disedari, kalian sedikit demi sedikit menerimanya. Paham?” tanya Guru kepada murid-muridnya. “Paham Bu Guru”

“Baik permainan kedua,” Ibu Guru melanjutkan. “Bu Guru ada Qur’an, Bu Guru akan meletakkannya di tengah karpet. Quran itu “dijaga” sekelilingnya oleh ummat yang dimisalkan karpet. Sekarang anak-anak berdiri di luar karpet.

Permainannya adalah, bagaimana caranya mengambil Qur’an yang ada di tengah dan ditukar dengan buku lain, tanpa memijak karpet?” Murid-muridnya berpikir. Ada yang mencoba alternatif dengan tongkat, dan lain-lain, tetapi tak ada yang berhasil.

Akhirnya Sang Guru memberikan jalan keluar, digulungnya karpet, dan ia ambil Qur’an ditukarnya dengan buku filsafat materialisme. Ia memenuhi syarat, tidak memijak karpet.

“Murid-murid, begitulah ummat Islam dan musuh-musuhnya. Musuh-musuh Islam tidak akan memijak-mijak kalian dengan terang-terangan. Karena tentu kalian akan menolaknya mentah-mentah. Orang biasapun tak akan rela kalau Islam dihina dihadapan mereka. Tetapi mereka akan menggulung kalian perlahan-lahan dari pinggir, sehingga kalian tidak sadar. Jika seseorang ingin membuat rumah yang kuat, maka dibina pundasi yang kuat. Begitulah ummat Islam, jika ingin kuat, maka bangunlah aqidah yang kuat. Sebaliknya, jika ingin membongkar rumah, tentu susah kalau fondasinya dahulu. Lebih mudah hiasan-hiasan dinding akan dikeluarkan dahulu, kursi dipindahkan dahulu, lemari dikeluarkan dahulu satu persatu, baru rumah dihancurkan…”

“Begitulah musuh-musuh Islam menghancurkan kalian. Mereka tidak akan menghantam terang-terangan, tetapi ia akan perlahan-lahan meletihkan kalian. Mulai dari perangai, cara hidup, pakaian dan lain-lain, sehingga meskipun kalian itu Muslim, tetapi kalian telah meninggalkan Syari’at Islam sedikit demi sedikit. Dan itulah yang mereka inginkan.”

“Kenapa mereka tidak berani terang-terangan menginjak-injak Bu Guru?” tanya mereka. Sesungguhnya dahulu mereka terang-terang menyerang, misalnya Perang Salib, Perang Tartar, dan lain-lain. Tetapi sekarang tidak lagi. Begitulah ummat Islam. Kalau diserang perlahan-lahan, mereka tidak akan sadar, akhirnya hancur. Tetapi kalau diserang serentak terang-terangan, baru mereka akan sadar, lalu mereka bangkit serentak. Selesailah pelajaran kita kali ini, dan mari kita berdo’a dahulu sebelum pulang…”

Matahari bersinar terik tatkala anak-anak itu keluar meninggalkan tempat belajar mereka dengan pikiran masing-masing di kepalanya.

***

Ini semua adalah fenomena Ghazwul Fikri (perang pemikiran). Dan inilah yang dijalankan oleh musuh-musuh Islam. Allah berfirman dalam surat At Taubah yang artinya:

“Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka, sedang Allah tidak mau selain menyempurnakan cahayaNya, sekalipun orang-orang kafir itu benci akan hal itu.”(QS. At Taubah :32).

Musuh-musuh Islam berupaya dengan kata-kata yang membius ummat Islam untuk merusak aqidah ummat umumnya, khususnya generasi muda Muslim. Kata-kata membius itu disuntikkan sedikit demi sedikit melalui mas media, grafika dan elektronika, tulisan-tulisan dan talk show, hingga tak terasa.

Begitulah sikap musuh-musuh Islam. Lalu, bagaimana sikap kita…?

-Note From Brother Asep Juju-

(anna/muslimazone.com)