Tampilkan postingan dengan label Cerita Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Hikmah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 Juli 2013

KH. Cholil Nawawie, Sidogiri, Jawa Timur: Teladan dari Kitab Berjalan


.

Sekitar tahun 1925 M/1343H. Nyai Nadzifah, istri Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri, KH. Nawawie Noerhasan, melahirkan seorang bayi lelaki. Atas saran Mbah Cholil Bangkalan, kiai dan wali kesohor dari Bangkalan, bayi itu kemudian diberi nama Muhammad Cholil.

Keistimewaan Kiai Cholil memang sudah tampak sejak kecil, hingga sebagian orang pun meyakininya sudah menjadi wali sejak kecilnya itu.

Sehari sebelum Mbah Cholil Bangkalan wafat, Mas Cholil (panggilan akrab Kiai waktu kecil) berteriak-teriak, “Medura kiamat, Medura kiamat (Madura kiamat, Madura kiamat)”. Ucapan itu diteriakkan Mas Cholil berkali-kali, sehingga didengar oleh abahnya, Kiai Nawawie, yang waktu itu sedang mengajar di surau.

“Ana apa, Lil (ada apa Lil)?” Kiai Nawawie bertanya.

“Medura kiamat, Ba (Madura kiamat, Abah), “ kata Mas Cholil, mengulang.

Kiai Nawawie baru mengerti perkataan Mas Cholil pada keesokan harinya, ketika sampai berita kepadanya bahwa Mbah Cholil Bangkalan wafat. Ulama adalah pilar dunia yang dapat menahan murka Allah untuk menurunkan adzab pada manusia. Karena itu, wafatnya seorang ulama besar sekelas Mbah Cholil bisa disebut sebagai kiamat.

Dalam menjalani masa-masa belajar, Kiai Cholil mengembara dari satu pondok ke pondok yang lain. Selain mengaji kepada Kiai Abdul Djalil, Kiai Cholil juga pernah ngaji di Pesantren Sarang, Jawa Tengah, saat pesantren itu diasuh oleh Kiai Zubair, ayahanda K.H. Maimun Zubair.

Saat mondok di sana, di samping mengaji, secara sembunyi-sembunyi ia mengisi bak mandi Kiai Zubair. Selang beberapa lama, hal itu diketahui, Kiai Zubair berkata kepada Kiai Cholil, “Mas, sampeyan wangsul mawon, sa aken liane (Mas, kamu pulang saja, kasihan yang lain).”

Maksud kata “kasihan” tersebut karena hampir di setiap sisi ia unggul, sementara santri lainnya tertinggal jauh. Bahkan pada masalah yang tak terkait dengan pelajaran secara langsung, seperti kerja mengabdi kepada guru, ia mengungguli yang lainnya.

Di Pondok Sarang, Kiai Cholil mondok hanya sekitar tiga bulan.

Selepas dari Sarang, Kiai Cholil melanjutkan mengaji kepada Kiai Mahfudz, Termas, dan Kiai Masduki, Lasem, Jawa Tengah. Tidak diketahui secara pasti berapa lama Kiai Cholil mengaji kepada dua ulama kenamaan tersebut.

Selang beberapa lama, Kiai Cholil berangkat nyantri ke Makkah. Di Tanah Suci, Kiai Cholil mengaji kepada ulama-ulama besar, di antaranya Syaikh Amin Kutbi dan Syaikh Hasan Al-Yamani. Disebutkan, sewaktu di Makkah ia mondok selama tiga tahun.


Dua Lumbung Padi

Di dalem Kiai Cholil ada dua lumbung padi, satu untuk keperluan dalem, yang satunya untuk persediaan seandainya masyarakat kampung membutuhkan. Kondisi seperti itu sudah lama ia perhitungkan. Sebab, ketika waktu paceklik datang, biasanya masyarakat akan datang meminta bantuan kepadanya.

Suatu saat panen gagal, sehingga masyarakat berduyun-duyun meminta bantuan. Saking banyaknya yang datang, lumbung persediaan yang biasanya untuk keperluan dalem juga dikeluarkan, tapi tetap saja tidak mencukupi.

Kondisi itu membuatnya menangis sedih. Ia merasa tidak dapat membantu masyarakat dengan maksimal.

Bila hari raya sudah dekat, seperti biasanya banyak orang berkeliling menjajakan dagangan dari rumah ke rumah. Setiap orang yang datang kepadanya untuk menawarkan barang, hampir pasti barang dagangannya dibelinya, dan untuk sementara waktu disimpannya di dalem. Ketika hari raya tiba, semua barang itu dibagikan kepada tetangga sekitar.

Kiai Cholil juga dikenal sebagai seorang yang sangat menghormati tamu dan tidak membeda-bedakan siapa pun tamu yang datang kepadanya. Semua tamu ia sambut dengan penuh hormat dengan sambutan yang hangat.

Wujud kepeduliannya juga dapat dilihat dari komitmennya yang bukan saja mengajar santri-santri didiknya, tetapi juga mendidik masyarakat. Secara rutin ia memberikan pengajian kepada masyarakat kampung setiap hari Selasa. Sementara pada hari Ahad ia memberi pengajian kitab Bidayatul Hidayah kepada kepala desa dan aparatnya se-Kecamatan Kraton.


Pendidik Sejati nan Bersahaja

Kiai Cholil adalah sosok yang kesehariannya penuh dengan keteladanan. Di antara teladan istimewanya adalah keistiqamahannya yang sangat menonjol dalam hal belajar dan mengajar.

Sedari kecil, kecintaannya pada ilmu sudah sangat kuat. Itu ditandai di antaranya dengan kepergiannya yang selalu tak pernah lepas dari kitab.

Sementara dalam hal mengajar, para santrinya sangat merasakannya. Bagi mereka, hampir tidak pernah ada libur dalam majelis-majelis rutin bersama Kiai Cholil di sepanjang hidupnya.

Cerita salah seorang muridnya, Ustadz Abdurrahman Syakur, dirinya sering diajak Kiai Cholil untuk menghadiri undangan. Biasanya naik dokar. Di sela-sela perjalanan, Kiai Cholil sering kali menyempatkan diri mengajari pelajaran ilmu faraidh. Sampai sekarang pelajaran yang diberikan Kiai Cholil terus teringat dan banyak manfaatnya bagi si ustadz.

Terhadap pengembangan kualitas keilmuan santri, khususnya para santri senior, ia sangat menaruh perhatian. Secara bergilir santri senior dipanggil untuk membaca kitab di hadapannya. Karena Kiai Cholil yang memanggil, mau tidak mau, mereka tertuntut untuk selalu siap menguasai materi pelajaran, khawatir bila mereka dipanggil secara mendadak.

Ketekunannya dalam menyimak memang luar biasa. Adiknya, Kiai Hasani, sangat mengagumi sifat kakaknya itu. Kiai Hasani pun sampat mengutarakan langsung kekagumannya kepada sang kakak.

Namun dengan tawadhu’ Kiai Cholil menganggap ketekunan itu satu hal yang sangat wajar dan tidak perlu dikagumi. “Tidak tahu, Ni (Kiai Hasani), saya senang muthala’ah, anak-anak senang mendengarkan),” katanya kepada Kiai Hasani.

Salah seorang kiai, Kiai Aqib Yasin, pernah menuturkan, dalam hal ibadah zhahir, Kiai Cholil bisa dibilang “biasa”. Tapi dalam hal ta’lim wa ta’allum, ia luar biasa. “Tirakat Kiai Cholil itu ta’lim wa ta’allum.”

Mengenai ketekunannya tersebut, Kiai Cholil pernah menukil dhawuh dari ayahnya, Kiai Nawawie Noerhasan, “Tekunlah belajar dan shalat berjama’ah, niscaya kau peroleh ilmu yang bermanfaat”. Rupanya, dhawuh itu sangat membekas dan menjadi prinsip hidup Kiai Cholil. Tidak ada kamus berleha-leha, melepaskan waktu tersia-sia tanpa belajar.

Teringat akan dhawuh itu pula, selain dalam hal ilmu, dalam hal shalat berjama’ah selama hidupnya bisa dikatakan ia tidak pernah meninggalkan shalat berjama’ah. Ketika hampir wafat pun, ia memaksakan diri shalat berjama’ah dengan bermakmum kepada seorang kiai lainnya, K.H. Abdul Halim.

Kiai Cholil termasuk seorang hafizhul Qur’an, orang yang hafal Al-Quran. Bila ia mengimami shalat berjama’ah, suaranya menyejukkan qalbu dan sangat menyentuh hati, hingga tak jarang membuat air mata orang yang bermakmum kepadanya menetes tanpa mereka sadari.

Kiai Cholil adalah sebuah kitab yang telah termanifestasi dalam tingkah laku. Demikian buku Jejak Langkah Masyayikh Sidogiri menyebutkannya. Dengan kata lain, ia adalah kitab berjalan yang berhias perilaku yang penuh dengan keteladanan dalam gerak-geriknya sehari-hari. Akhlaq dan syari’atnya tepat berpadu dengan ilmunya.

Sepulang menunaikan ibadah haji yang kedua kalinya, Kiai Cholil berkata pada Kiai Hasani, “Tidak pas, Ni. Mengerjakan sunnah, meninggalkan yang wajib.” Kalimat itu adalah ungkapan protes darinya pada sistem dan juga praktek pelaksanaan ibadah haji yang sering mengabaikan salat dalam perjalanan.

Pada suatu acara walimah, uang Kiai Cholil diambil oleh Gus ‘Ud, seorang yang terkenal sebagai wali majdzub. Kiai Cholil mengingatkan, “Haram, Gus… haram, Gus!” Kiai Cholil mengingatkan, siapapun orangnya, jika tidak sesuai syari’at, harus ditegur.

Selain tegas dalam hal syari’at, profilnya dikenal sangat sederhana dan tidak suka ditonjol-tonjolkan. Dalam forum-forum apapun ia lebih senang diam. Diamnya bukan berarti diam tidak paham atau acuh tak acuh. Diamnya itu adalah untuk memberikan kesempatan bicara yang lebih luas kepada yang lainnya. Terbukti, biasanya setelah semua anggota dalam suatu forum kehabisan argumen atau ada yang musykil, barulah Kiai Cholil angkat bicara, dan mereka semua langsung bisa menerima. Sehingga, bisik-bisik di kalangan mereka menyebutkan, ”Kiai Cholil banyak hafal kitab”.

Saat makan, bila sudah terasa nikmat, ia berhenti seketika. Soal kebiasaannya ini, Kiai Cholil tidak pernah bercerita, hingga sampai suatu ketika salah seorang yang biasa mendampinginya bertanya kepadanya tentang hal itu. “Saya khawatir nikmat saya habis di dunia,” jawab Kiai Cholil.

Sikap hidup sederhana Kiai Cholil bisa dibaca dari doa yang tertampang di dalemnya, “Ya Allah, hidupkan aku dalam keadaan miskin. Dan ambil nyawaku dalam keadaan yang sama. Serta kumpulkankanlah aku bersama orang-orang miskin.” Juga sebuah ayat Al-Quran yang maknanya, “Kami memberikan makan pada kalian hanya untuk (mencari) ridha Allah. Kami tidak mengharap dari kalian balasan dan juga kata terima kasih.”

Kedua kalimat itu terpampang di ruang tamu dalem Kiai Cholil dan sering dibaca olehnya. Tulisan itu bukan sebuah hiasan belaka atau slogan kosong, tapi betul-betul terwujud nyata dalam kehidupan Kiai Cholil sehari-hari.


Kepergian Sang Teladan

Segala yang hidup akan kembali kepada-Nya. Tak ada yang mampu menebak kapan Malaikat Maut akan datang menjemput ajal. Tak ada pula orang yang dapat mengulur waktu dari jadwal yang telah ditentukan.

Di salah satu malam ganjil pada bulan yang amat mulia, Senin Pon 21 Ramadhan 1397 H atau 05 September 1977, Kiai Cholil wafat.

Shalat terakhirnya adalah shalat Isya yang kemudian dilanjutkan dengan shalat Tarawih. Ia shalat duduk bermakmum kepada K.H. Abdul Halim. Sebelum shalat, karena sifat tawadhu’nya, ia bertanya kepada K.H. Abdul Halim, apakah sudah boleh dirinya shalat dengan duduk.

Saat sedang mengerjakan shalat Tarawih seperti malam-malam sebelumnya, ia pergi ke kamar kecil. Ketika itu, ia terjatuh tanpa ada seorang pun bersamanya.

Tak lama berselang salah seorang santri yang biasa mengirinya dating menolong. Tapi tak lama kemudian, Kiai Cholil mengembuskan napas yang terakhir.

Beribu-ribu orang hadir untuk memberikan penghormatan kepada seorang yang pernah dikomentari oleh Rais Am NU K.H. Ahmad Shiddiq Jember, “Kiai Cholil itu wali karena istiqamahnya.” Dengan mata berkaca-kaca mereka mengenang dengan doa kepada sosok kiai tercinta. Kiai yang penuh rasa kasih sayang.

Saat itu, keranda seperti berjalan di atas ujung jari, karena begitu banyak dan rapatnya orang yang memikul. Bahkan, tikar yang dibuat sebagai alas keranda menjadi rebutan ribuan jama’ah sampai habis tak tersisa. Semuanya berebut untuk mengambil, kendati secuil, barakah Kiai Cholil. []

IY*AP



Catatan:
1. Yang disebut “Kiai Abdul Djalil” adalah K.H. Abd. Djalil bin Fadlil, kakak ipar K.H. Cholil Nawawie dan Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri sebelum beliau.
2. Yang disebut “Ustadz Abdurrahman Syakur” adalah K.H. AD. Rohman Syakur, Rais Syuriah PCNU Kab. Pasuruan.
3. Yang disebut “K.H. Abdul Halim” adalah K.H. Abd. Alim Abd. Djalil (wafat 2005), keponakan K.H. Cholil Nawawie dan penerusnya sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri.
4. Yang disebut “Kiai Aqib Yasin” adalah keponakan K.H. Cholil Nawawie dan kiai di PP. Salafiyah, Kota Pasuruan.
(“Ya Allah, hidupkan aku dalam keadaan miskin. Dan ambil nyawaku dalam keadaan yang sama. Serta, kumpulkanlah aku bersama orang-orang miskin.”

Sumber: http://gemuruhsepi.blogspot.com/2011/07/kh-cholil-nawawie-sidogiri-jawa-timur.html

Minggu, 23 Juni 2013

BEGINILAH MEREKA MENGHANCURKAN KITA

Ibu Guru berkerudung rapi tampak bersemangat di depan kelas sedang mendidik murid-muridnya dalam pendidikan Syari’at Islam. Di tangan kirinya ada kapur, di tangan kanannya ada penghapus. Ibu Guru berkata, “Saya punya permainan. Caranya begini, di tangan kiri saya ada kapur, di tangan kanan ada penghapus.

Jika saya angkat kapur ini, maka berserulah “Kapur!”, jika saya angkat penghapus ini, maka berserulah “Penghapus!” Murid muridnya pun mengerti dan mengikuti. Ibu Guru mengangkat silih berganti antara tangan kanan dan tangan kirinya, kian lama kian cepat.

Beberapa saat kemudian sang guru kembali berkata, “Baik sekarang perhatikan. Jika saya angkat kapur, maka berserulah “Penghapus!”, jika saya angkat penghapus, maka katakanlah “Kapur!”. Dan permainan diulang kembali.

Maka pada mulanya murid-murid itu keliru dan kikuk, dan sangat sukar untuk mengubahnya. Namun lambat laun, mereka sudah biasa dan tidak lagi kikuk. Selang beberapa saat, permainan berhenti. Sang guru tersenyum kepada murid-muridnya.

“Anak-anak, begitulah ummat Islam. Awalnya kalian jelas dapat membedakan yang haq itu haq, yang bathil itu bathil. Namun kemudian, musuh musuh ummat Islam berupaya melalui berbagai cara, untuk menukarkan yang haq itu menjadi bathil, dan sebaliknya.

Pertama-tama mungkin akan sukar bagi kalian menerima hal tersebut, tetapi karena terus disosialisasikan dengan cara-cara menarik oleh mereka, akhirnya lambat laun kalian terbiasa dengan hal itu. Dan kalian mulai dapat mengikutinya. Musuh-musuh kalian tidak pernah berhenti membalik dan menukar nilai dan etika.”

“Keluar berduaan, berkasih-kasihan tidak lagi sesuatu yang pelik, zina tidak lagi jadi persoalan, pakaian seksi menjadi hal yang lumrah, sex sebelum nikah menjadi suatu hiburan dan trend, materialistik kini menjadi suatu gaya hidup, korupsi menjadi kebanggaan dan lain lain. Semuanya sudah terbalik. Dan tanpa disedari, kalian sedikit demi sedikit menerimanya. Paham?” tanya Guru kepada murid-muridnya. “Paham Bu Guru”

“Baik permainan kedua,” Ibu Guru melanjutkan. “Bu Guru ada Qur’an, Bu Guru akan meletakkannya di tengah karpet. Quran itu “dijaga” sekelilingnya oleh ummat yang dimisalkan karpet. Sekarang anak-anak berdiri di luar karpet.

Permainannya adalah, bagaimana caranya mengambil Qur’an yang ada di tengah dan ditukar dengan buku lain, tanpa memijak karpet?” Murid-muridnya berpikir. Ada yang mencoba alternatif dengan tongkat, dan lain-lain, tetapi tak ada yang berhasil.

Akhirnya Sang Guru memberikan jalan keluar, digulungnya karpet, dan ia ambil Qur’an ditukarnya dengan buku filsafat materialisme. Ia memenuhi syarat, tidak memijak karpet.

“Murid-murid, begitulah ummat Islam dan musuh-musuhnya. Musuh-musuh Islam tidak akan memijak-mijak kalian dengan terang-terangan. Karena tentu kalian akan menolaknya mentah-mentah. Orang biasapun tak akan rela kalau Islam dihina dihadapan mereka. Tetapi mereka akan menggulung kalian perlahan-lahan dari pinggir, sehingga kalian tidak sadar. Jika seseorang ingin membuat rumah yang kuat, maka dibina pundasi yang kuat. Begitulah ummat Islam, jika ingin kuat, maka bangunlah aqidah yang kuat. Sebaliknya, jika ingin membongkar rumah, tentu susah kalau fondasinya dahulu. Lebih mudah hiasan-hiasan dinding akan dikeluarkan dahulu, kursi dipindahkan dahulu, lemari dikeluarkan dahulu satu persatu, baru rumah dihancurkan…”

“Begitulah musuh-musuh Islam menghancurkan kalian. Mereka tidak akan menghantam terang-terangan, tetapi ia akan perlahan-lahan meletihkan kalian. Mulai dari perangai, cara hidup, pakaian dan lain-lain, sehingga meskipun kalian itu Muslim, tetapi kalian telah meninggalkan Syari’at Islam sedikit demi sedikit. Dan itulah yang mereka inginkan.”

“Kenapa mereka tidak berani terang-terangan menginjak-injak Bu Guru?” tanya mereka. Sesungguhnya dahulu mereka terang-terang menyerang, misalnya Perang Salib, Perang Tartar, dan lain-lain. Tetapi sekarang tidak lagi. Begitulah ummat Islam. Kalau diserang perlahan-lahan, mereka tidak akan sadar, akhirnya hancur. Tetapi kalau diserang serentak terang-terangan, baru mereka akan sadar, lalu mereka bangkit serentak. Selesailah pelajaran kita kali ini, dan mari kita berdo’a dahulu sebelum pulang…”

Matahari bersinar terik tatkala anak-anak itu keluar meninggalkan tempat belajar mereka dengan pikiran masing-masing di kepalanya.

***

Ini semua adalah fenomena Ghazwul Fikri (perang pemikiran). Dan inilah yang dijalankan oleh musuh-musuh Islam. Allah berfirman dalam surat At Taubah yang artinya:

“Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka, sedang Allah tidak mau selain menyempurnakan cahayaNya, sekalipun orang-orang kafir itu benci akan hal itu.”(QS. At Taubah :32).

Musuh-musuh Islam berupaya dengan kata-kata yang membius ummat Islam untuk merusak aqidah ummat umumnya, khususnya generasi muda Muslim. Kata-kata membius itu disuntikkan sedikit demi sedikit melalui mas media, grafika dan elektronika, tulisan-tulisan dan talk show, hingga tak terasa.

Begitulah sikap musuh-musuh Islam. Lalu, bagaimana sikap kita…?

-Note From Brother Asep Juju-

(anna/muslimazone.com)

Sabtu, 28 Mei 2011

Mari Kita Belajar Mengambil Suatu Hikmah Dari Cerita Humor

Assalamualaikum warahmatullah
Kali ini saya ingin mengajak saudaraku semuslim semuanya untuk belajar mengambil hikmah dari cerita Humor yang biasa kita jadikan lelucon dalam sehari-hari,.,.

Langsung aja,,,

Cerita 1

Ada suami dan istri yang selalu cekcok setiap hari. Akhirnya suaminya bete dan pergi ke warnet. Di warnet ia pun melakukan chating dengan seorang konsultan keluarga & kesehatan, dan kebetulan orang tersebut adalah seorang Dokter :

Suami : Dok, saya sudah tidak tahan dengan tingkah istri saya ....
Dokter : Lho, Memang kenapa?
Suami : Setiap saya berbicara dengannya, ia selalu men-cuekin saya. Saya menduga dia tuli ....
Dokter : O Gitu .... gampang lah. By the way, dia tulinya pada jarak berapa meter?
Suami : Lho, memangnya kenapa Dok?
Dokter : Begini, tuli pada jarak 4 meter berbeda dosis obatnya dibanding dengan tuli pada jarak 3 meter, 2 meter,
 apalagi 1 meter ...
Suami : O gitu ya Dok. Baiklah saya cek dulu ke rumah ...

Sesampainya di rumah ia melihat istrinya sedang memasak di dapur. Kemudian setelah dia mengukur, maka pada jarak 4 meter ia pun bertanya kepada istrinya. “Istriku sekarang kau masak apa?” Ternyata istrinya diam saja, dan ia pun melangkah 1 meter lagi mendekati istrinya dan ia bertanya lagi: “Istriku sekarang kau masak apa?”

Tetapi istrinya masih diam saja, lalu ia pun melangkah 1 meter lagi mendekati istrinya, dan dengan perasaan dongkol ia bertanya lagi kepada istrinya dengan berteriak kesal: “Istriku sekarang kau masak apa?” .... tiba-tiba suasana hening sejenak ....dan istrinya pun berbalik dengan amarah yang tampak di wajahnya, kemudian ia berkata dengan lantang, “Sudah kubilang 3 kali, aku masak rendang! Rendang!! Rendang!!! Masa sih kau tak dengar?”

(Hahahahahahaha)


Cerita 2

suatu hari, di pagi hari dalam kelas yang semuanya diisi oleh calon mahasiswa baru, masuklah seorang kakak kelas dengan berakting marah yang luar biasa. “Kalian semua memang Goblok, masa semuanya tidak tahu yang namanya orang Goblok, dasar Goblok.... Ayo yang Goblok berdiri!” Ya terang aja tidak ada yang mau berdiri, karena selain takut dimarahin kan yang berdiri artinya goblok. “Yang Goblok ayo berdiri!” perintahnya sekali lagi.... suasana kelas pun hening mencekam ... si Kakak mulai merasa puas, hatinya berkata, “He... he... gua kerjain lu semua!”. Tapi tiba-tiba ada seorang calon mahasiswa yang berdiri dengan sedikit ragu..

Kakak : (Membentak!) Hei Siapa kamu?
Doni : Saya Doni, Kak!
Kakak : O jadi ini rupanya orang yang membuat biang kerok, sehingga semuanya jadi goblok.
Doni : Maaf Kak, bukan saya ....
Kakak : Lha, bukan kamu! (Heran) Terus ngapain kamu berdiri dasar goblok!
Doni : Kata kakak kan tadi yang goblok harus berdiri..., terus terang Kak, saya ga enak melihat kakak berdiri sendirian ....

(Hahahahaahaha)

=================================================

WKkkw.... 2 Cerita di atas bikin ane nyengar nyengir sendirian....


tapi dibalik itu semua, maksud dari kedua cerita itu adalah....

"INSTROPEKSI DIRI SENDIRI DULU BARU INSTROPEKSI YANG LAIN"

Ibarat jika ada orang pas tidur tiba-tiba hidung kita kemasukan tai cicak, maka dia pas bangun tidur langsung berkata ; "Kamar ini Bau tai cicak ya??", terus dia ke kamar mandi tetep bau, dan berkata "wc nya juga bau tai cicak ", lalu dia keluar rumah menghirup udara desa, ehhh masih bau juga ternyata, akhirnya dia menyimpulkan :

"Sekarang seluruh Desa ini Sudah Bau tai cicak!!!!!!"

padahal yang bau hanya hidungnya dia, bukan desanya.... hehehe ^_^

begitulah kalau kita gagal mengidentifikasi kekurangan kita, maka biasanya kita akan mudah melihat kekurangan orang lain dengan cara yang tidak bijak. Jadi boleh disimpulkan, bagi orang-orang yang selalu melihat orang lain tidak sempurna, dan selalu melihat orang lain tidak becus melakukan sesuatu, atau selalu melihat apa yang dikerjakan orang lain itu salah, alias merasa paling benar sejagat. dan kita seringkali melupakan kesalahan kita dan seenaknya menyalahkan orang lain. maka sepatutnya orang tersebut bercermin diri sebelum ajal menghampiri...

Ada sebuah hadis sahih yang sering orang khilaf mengartikannya. Hadis sahih itu berbunyi Laa yu’minu ahadukum hattaa yuhibba liakhiihi maa yuhibbu linafsihi. Banyak yang khilaf mengartikan hadis ini dengan: “Belum benar-benar beriman salah seorang di antara kamu sampai dia menyintai saudaranya sebagaimana menyintai dirinya.” Pemaknaan ini kelihatannya benar, tapi ada yang terlewatkan dalam mencermati redaksi hadis tersebut. Disana redaksinya yuhibba liakhiihi (menyintai untuk saudaranya), bukan yuhibba akhaahu (menyintai saudaranya), Jadi semestinya diartikan “Belum benar-benar beriman salah seorang di antara kamu sampai dia senang atau menyukai untuk saudaranya apa yang dia senang atau menyukai untuk dirinya sendiri”.

Artinya apabila kita senang atau suka mendapat kenikmatan, misalnya, maka kita harus –bila ingin menjadi sebenar-benar mukmin—juga senang atau suka bila saudara mendapat kenikmatan. Apabila kita senang diperlakukan dengan baik, kita pun harus senang bila saudara kita diperlakukan dengan baik. Apabila kita senang jika tidak diganggu, kita pun harus senang bila saudara kita tidak diganggu. Demikian seterusnya.

Normalnya, adalah sama. Sebagaimana kita tidak suka melihat perangai buruk orang lain, orang lain pun pasti tidak suka melihat perangai buruk kita. Demikian pula sebaliknya; apabila kita senang melihat perangai orang yang menyenangkan, orang pun pasti akan senang apabila melihat perangai kita menyenangkan.

Wallahu'alam bishowwab,.,

Barakallohu fiykum jami'an

Postingan ini bersumber dari : http://www.kaskus.us/  
Karya : Mahasantri
Yang terinspirasi oleh :  HUMOrTIVASI karya Kang Zen