Tampilkan postingan dengan label Tanaman Hias. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tanaman Hias. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 November 2011

Mengisi Waktu

Jenuh, itulah rasa yang seringkali menghinggapi saat baru pindah kesini. tiba-tiba saja aku ada ide untuk meneruskan hoby berkebun. Walhasil, ruang kosong yang dulunya tampak monoton dengan hamparan batako kini tampak lebih punya 'taste', ya... kujadikan tempat pembibitan tanaman hias dan beberapa jenis sayuran. belum banyak sih, tapi sudah bisa kujadikan tempat refresh kalau lagi jenuh.
"ada tanaman apa aja..???" beberapa jenis tanaman hias, seperti : Beras Kutah, Adenium dan beberapa jenis lagi yang tidak tahu namanya, ada juga jenis Sri Rejeki, tapi yang ini daunnya lebih lebar dari biasanya, lucunya lagi, semuanya itu adalah hasil pemberian teman-teman ditempat kerja. hehehehe......
Ada juga sayuran Keratok, begitulah nama ditempat tinggalku, semaca tanaman merambar dan buahnya seperti buncis. rasanya itu yang bikin aku ketagihan.... karena teman-teman banyak yang tidak tahu untuk sayuran ini, jadi sengaja aku bawakan dari rumah dan kusemaikan, setelah siap tanam kuberikan kepada teman-teman untuk ditanam dirumah mereka.





Ini foto sebagian temanku, lebay narsisnya.... hehehehee





Minggu, 20 November 2011

Mini Garden 'alakadarnya'

Apa itu taman mini? Sebagian orang menyebutnya dish-plant, atau dish garden, adalah taman kecil yang dibuat di dalam pot dengan memadukan elemen-elemen yang (juga) berkukuran kecil namun tidak kehilangan unsur artistiknya. Kelebihan taman mini ini selain dapat dipindah-pindah, juga lebih mudah dalam perawatan (karena kecil dari segi kuantitas), dan dapat dijadikan sebagai indoor garden dalam rumah kita. Namun ketelitian dan ketekunan tetap menjadi kunci utama keberhasilan taman ini, orang yang tidak mampu bekerja dengan sesuatu yang detail tidak akan mampu merawat, apalagi membuat taman mini ini, hehehehhee….
Ini contoh taman mini yang saya buat sebulan yang lalu, keterbatasan jenis pot dan jenis tanaman di kampung tidak mengurangi niat saya untuk berkreasi di rumah, hehehehe…




Perawatan taman mini ini tidak lah terlalu rumit, yang utama adalah menjaga kebersihan, penyiraman (dengan hati-hati) apabila tanah telah kering atau seminggu sekali, menjemur taman satu kali atau dua kali seminggu. Taman sukulen dapat diletakkan di tempat kaya cahaya, tetapi hindarkan dari hujan dan air yang berlebihan. Sedangkan taman yang terdiri dari paku-pakuan, lumut dan tanaman air dapat diletakkan di tempat dingin dan teduh, bahkan di luar ruangan (tidak masalah terkena hujan ringan).

Jika dirasa kondisi tanaman terlihat merana, kekuningan atau busuk itu kemungkinan adalah pertanda kekurangan hara atau kelebihan air. Kita bisa menambahkan pupuk NPK seimbang butiran secukupnya. Tanaman yang mati dan busuk harus segara dicabut dan diganti.

Selamat mencoba! Selamat berkreatifitas!

Rabu, 16 November 2011

Tanaman Buah dalam Pot Solusi untuk Lahan Sempit

+
Hobi berkebun tak mesti lenyap hanya karena lahan terbatas.



Bangsa Indonesia adalah bangsa agraris. Karena itu tak heran, penduduk yang tinggal di kota-kota besar pun tetap memiliki naluri untuk berkebun. Namun, hasrat ini sering terbentur dengan keterbatasan lahan yang dimiliki. Kini dengan metoda tabulampot (tanaman buah dalam pot), hobi bercocok tanam dapat tersalur tanpa perlu risau dengan lahan yang pas-pasan.

Awalnya, bertanam tanaman buah di dalam pot hanyalah trik iseng yang dilakukan beberapa penangkar buah. Ini karena bibit tanamannya banyak yang tak laku terjual. Kejadian ini berlangsung di awal tahun 80-an, saat bisnis jual-beli bibit tanaman buah belum terlalu marak.

Untuk menghambat agar bibit tanaman yang tak laku tersebut tidak menjadi pohon, para penangkar nekat menanamnya di dalam pot. Perawatan yang diberikan tak jauh beda ketika bibit itu ditanam di tanah.

Hasilnya sungguh di luar dugaan. Tanaman buah yang dihambat pertumbuhannya itu tetap berbuah, bahkan lebih rajin. Hal inilah yang di kemudian hari menjadi daya tarik tabulampot.

Ada sejumlah keuntungan yang Anda dapatkan bila memelihara tabulampot di halaman. Pertama, tentu saja buah yang dihasilkannya. Kemudian, halaman rumah yang pas-pasan bisa tampil hijau dan cantik. Dan yang ketiga, tabulampot juga bisa berfungsi sebagai penyaring udara jika ditempakan secara soliter, sehingga debu tak terlalu banyak masuk ke dalam rumah. Ukuran tajuk tanaman dalam pot yang tergolong ”kompak” (umumnya tingginya hanya sekitar 1 sampai 2 meter) sangat pas menghalau debu yang beterbangan. Selain itu, tabulampot juga cukup luwes bila dipadukan dengan tanaman hias di taman atau halaman rumah.

Jenis Tanaman

Sebelum memutuskan menanam bibit tanaman buah dengan teknik pot, Anda perlu memahami asal-usul tanaman. Jangan sampai tanaman dataran tinggi seperti apel ditanam di Jakarta. Alih-alih berbuah, tanaman malahan akan merana kepanasan. Umumnya semua jenis tanaman buah hanya dapat berbunga dan berbuah dengan baik bila ditanam di daerah dengan ketinggian sekitar 400 m dpl ( di bawah permukaan laut..???).

Beragam tanaman buah saat ini sudah banyak yang berhasil dibudidayakan dengan sistem pot. Ada yang mudah, ada pula yang sulit. Jenis alpukat, durian, gandaria, dan nangka besar adalah beberapa contoh tanaman buah yang sampai saat ini belum berhasil ditanam sebagai tanaman dalam pot. Sedang jambu bol, jambu mawar, manggis, duku, jamblang, lengkeng, nangka madu, dan rambutan termasuk contoh yang agak sulit dibudidayakan sebagai tanaman dalam pot.

Jika Anda pemula, disarankan untuk memilih tanaman seperti mangga, jambu biji, belimbing, jeruk, srikaya, dan kedondong yang mudah berbuah dan hidup dalam pot.
Bibit

Pemilihan bibit adalah faktor yang sangat menentukan dalam menanam tabulampot. Bibit yang baik tentu akan menghasilkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang prima—secara kualitas dan kuantitas. Sebaiknya bibit untuk tabulampot dibeli dari penangkar tanaman yang baik dan terpercaya.

Dalam dunia pertanian, dikenal dua metoda perbanyakan, yakni cara generatif dan vegetatif. Keunggulan perbanyakan generatif antara lain menghasilkan postur batang dan perakaran yang kuat. Sedangkan kelemahannya, membutuhkan waktu lama untuk berbunga dan berbuah (lebih dari 3 tahun). Selain itu kualitas buahnya seringkali berbeda dengan tanaman induk.

Sebaliknya, perbanyakan vegetatif akan menghasilkan tanaman yang sama dengan tanaman induk dan relatif lebih cepat berbuah, tetapi batang dan perakarannya kurang kokoh. Biasanya perbanyakan generatif dilakukan dengan biji. Sedangkan perbanyakan vegetatif dapat dilakukan dengan setek, cangkok, okulasi, sambung, susuan, dan anakan.
Media Tanam

Urusan bibit selesai, kita beralih ke langkah berikut yakni menyiapkan media tanam dan pot. Media tanam untuk tabulampot banyak jenis dan variasinya. Media bisa dipergunakan secara murni atau campuran. Media yang digunakan sebaiknya memenuhi syarat minimal, yaitu mengandung 50% tanah, 20% pasir, dan 30% bahan organik. Syarat minimal tadi bisa diterjermahkan menjadi berbagai macam komposisi bahan dasar sebagai media tabulampot. Bahan dasar yang bisa dipakai untuk media tanam terdiri atas tanah, humus, pupuk kandang, sekam, serbuk gergaji, kompos, pupuk kimiawi, dan bahan lain seperti batu koral atau kerikil sebagai tambahan.
Untuk menentukan media yang cocok bagi tanaman buah, sebaiknya Anda mempelajari karakteristik tanaman tersebut. Pahami sifat tanaman tentang kebutuhan air, sistem perakaran, kecepatan tumbuh, dan bentuk atau struktur daun. Secara umum, struktur media harus gembur agar perakaran mudah tumbuh. Selain itu media juga harus mengandung unsur-unsur hara yang mudah diserap dan dibutuhkan oleh tanaman, serta cukup mudah mengikat dan melepaskan air.

Lebih baik lagi jika sebelum menggunakannya, Anda melakukan proses sterilisasi terhadap media. Misalnya dengan meng-oven-nya. Dengan proses ini, media relatif bebas hama dan penyakit, tetapi masih memiliki mikroorganisme yang membantu proses penguraian bahan organik dalam tanah. Media sebaiknya juga cukup ringan agar pot mudah dipindahkan bila perlu.

Contoh komposisi media adalah sebagai berikut:
Campuran tanah, pasir, dan pupuk kandang (1:1:1)
Campuran tanah, pupuk kandang, dan sekam (1:1:1)
Campuran humus, sekam, dan serbuk gergaji (1 : 1 : 1)
Campuran tanah dengan pupuk organik Super TW Plus (1:6)

Wadah

Pemilihan pot yang tepat menjadi modal awal bagi pertumbuhan tanaman yang baik. Pot untuk tanaman tak harus dibeli. Anda bisa berkreasi membuatnya dengan memanfaatkan kaleng biskuit bekas, sisa galon air mineral, ember tak terpakai, drum bekas senyawa kimia, dan lainnya. Yang perlu diingat adalah sebaiknya pot terbuat dari bahan yang cukup ringan dan tidak mudah pecah.

Perhitungkan juga estetika bentuk agar menambah keindahan tabulampot. Untuk menghindari kontaminasi zat, cucilah wadah sampai bersih terlebih dahulu. Sejauh ini, pilihan favorit dipegang oleh drum bekas, karena wadah ini mampu menampung seluruh sistem perakaran.

Dasar pot harus diberi lubang untuk jalan pembuangan air. Sebaiknya lubang ini berukuran kecil, tetapi disediakan dalam jumlah banyak. Agar pembuangan air berjalan lancar, pot sebaiknya diberi “kaki” atau penyangga. Misalnya pot bekas drum diberi penyangga dari batako atau conblock. Pot semen atau plastik biasanya sudah ada kakinya. Sedangkan pot dari kayu atau logam dianjurkan untuk lebih dulu dilapisi dengan residu atau flincote agar tak gampang lapuk atau berkarat.

Cara Menanam

Setelah menyiapkan pot dan media tanam, langkah selanjutnya adalah melakukan pengisian media ke dalam pot. Adapun tahap-tahap pengisian media adalah sebagai berikut:
Buatlah selapis pecahan bata merah di dasar pot yang berfungsi untuk menutup lubang pada dasar pot, agar media tidak ikut terbuang ketika disirami.
Hamparkan selapis humus atau ijuk di atas lapisan pecahan bata merah.
Isikan media tanam yang dipilih hingga mencapai setengah bagian pot.
Siapkan bibit yang biasanya ditanam dalam polybag.
Siram media dalam polybag yang berisi bibit dengan air hingga cukup basah. Kemudian, balikkan posisi polybag sambil menepuk-nepuk bagian dasarnya. Atau bisa juga Anda menggunting atau merobek langsung polybag, lantas mengeluarkan bibitnya.
Pangkaslah sebagian cabang, ranting, dan daun yang tidak berguna untuk mengurangi penguapan.
Letakkan bibit tepat di tengah-tengah pot secara tegak. Timbun dengan media sampai pot tersebut penuh, sambil memadatkan tanah di sekitar pangkal batang tanaman. Lakukan penyiraman hingga media cukup basah, lantas letakkan tabulampot itu di tempat teduh selama 4-6 minggu, hingga tampak segar dan tumbuh tunas-tunas baru.


Pemupukan

Untuk menambah kesuburan media dalam pot, jika perlu siramkan humus/pupuk cair (sebagai pengganti pupuk kandang) sebanyak 1,5-2 cc/liter air, atau larutan untuk memperbaiki struktur tanah (dapat dibeli di toko pertanian) sebanyak 3-5 cc/liter air pada saat penanaman.

Tunggu dulu! Tugas Anda tidak berhenti sampai di situ. Kendati penanaman sudah selesai, pemeliharaan masih perlu dilakukan, seperti pemupukan, pembentukan pohon, dan pengaturan pembuahan. Pemupukan harus dilakukan dengan dosis tertentu. Kelebihan dan kekurangan dosis tentu berdampak buruk bagi tanaman.

Jenis pupuk yang bisa dipilih memang beragam. Yang pasti, tanaman buah butuh unsur hara makro, seperti N, P, K, dan unsur hara mikro seperti Ca, Mg, dan S. Unsur hara mineral merupakan sumber nutrisi bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Cermati pula waktu dan cara pemupukan. Anda dapat membaca petunjuk pemakaian pada bungkus pupuk, atau menanyakannya pada pemilik toko pertanian.

Jika Anda memberikan terlalu banyak pupuk, tanaman buah dapat kering atau terbakar.

Jurus terakhir agar tanaman Anda tumbuh sehat dan dapat berbuah adalah melakukan pengawasan terhadap hama dan penyakit tanaman. Faktor pengganggu ini jangan sampai mengacaukan mimpi Anda untuk memanen buah. Hama yang umum muncul adalah ulat, kutu/aphid, dan belalang. Anda bisa memilih insektisida yang tepat sesuai kebutuhan. Baca juga petunjuk pemakaian dengan cermat, agar tidak terjadi kesalahan aplikasi.

Pemangkasan

Pada tanaman buah juga dikenal teknik pemangkasan. Tujuannya untuk menjaga kesehatan dan meningkatkan produksi. Pemangkasan juga mampu menjaga kelembaban tanaman sehingga tak mudah terserang hama dan penyakit. Hama dan penyakit umumnya akan muncul pada kondisi kelembaban tinggi.
Berdasar umur tanaman, pemangkasan terbagi menjadi tiga, yaitu pemangkasan pada pembibitan—pemangkasan tanaman yang belum menghasilkan—dan pemangkasan tanaman yang sudah menghasilkan. Sedang dilihat dari tujuannya, pemangkasan dibedakan menjadi empat, yaitu pemangkasan bentuk, pemeliharaan, produksi, dan peremajaan.





Sumber : http://www.tabloidrumah.com/?p=1171

Minggu, 12 Juni 2011

Cara Jitu Tanam Rumput Gajah Mini




Ingin menanam rumput gajah mini di halaman? Tak perlu tukang atau keahlian khusus, kok. Berikut cara praktisnya.

Rumput gajah mini (Pennisetum purpureum schamach ) semakin naik pamor sebagai dekorasi taman. Perannya tak hanya sebagai penutup tanah, tapi juga untuk pemanis nat lantai carport dan pembatas teras dengan taman.

Daunnya berwarna hijau pekat menyejukkan mata. Ciri khas lainnya, berdaun tebal dengan tepian yang agak keriting. Panjang daun hanya 5cm –rumput gajah biasa ada yang 10cm—dengan akar sepanjang 5cm-8cm. Meski tampilannya rada buntet tapi terlihat rapi.

Daya tarik rumput yang harganya berkisar Rp25.000-Rp35.000 per meter persegi ini ada pada tampilan yang lebih rapi dibanding saudaranya, rumput gajah “maksi”. Daunnya pendek dan tak cepat gondrong. Anda pun tak perlu repot-repot mencukurnya tiap bulan. Untuk menjaga kesuburan, Anda cukup menaburi urea dan NPK tiap dua minggu sekali.

Langkah Praktis Menanam:
Gemburkan tanah menggunakan cangkul. Cangkul dan balikkan tanah hingga kedalaman sekitar 20cm. Setelah itu, ratakan permukaan tanah.
Siapkan rumput dalam bentuk dan ukuran kecil. Pecah rumput besar menjadi ukuran lebih kecil, antara 3cm-5cm. Setelah itu, benamkan rumput ke dalam tanah hingga seluruh akarnya tertimbun. Benamkan rumput secara zigzag sehingga nantinya pertumbuhan rumput subur, rapat, dan rapi.
Perkuat “ikatan” rumput dengan tanah. Pukul perlahan permukaan rumput hingga akarnya melekat ke dalam tanah. Ratakan juga posisi rumput dan permukaan tanah dengan menggunakan permukaan lebar batu bata atau balok kayu. Diamkan rumput selama satu minggu hingga akarnya tumbuh.
Taburkan pupuk urea dan NPK secara merata. Lakukan proses ini dua minggu kemudian.
Siram dengan air menggunakan gembor (ceret) yang berlubang kecil. Tekanan rendah akan menghindari penggenangan air pada tanah dan rumput yang dapat mengakibatkan pembusukan rumput.
Penulis: M.Indra Sukma
Selamat Mencoba

http://renovasiku.blogspot.com/2010/09/tips-32-cara-jitu-tanam-rumput-gajah.html