Minggu, 23 Juni 2013

BEGINILAH MEREKA MENGHANCURKAN KITA

Ibu Guru berkerudung rapi tampak bersemangat di depan kelas sedang mendidik murid-muridnya dalam pendidikan Syari’at Islam. Di tangan kirinya ada kapur, di tangan kanannya ada penghapus. Ibu Guru berkata, “Saya punya permainan. Caranya begini, di tangan kiri saya ada kapur, di tangan kanan ada penghapus.

Jika saya angkat kapur ini, maka berserulah “Kapur!”, jika saya angkat penghapus ini, maka berserulah “Penghapus!” Murid muridnya pun mengerti dan mengikuti. Ibu Guru mengangkat silih berganti antara tangan kanan dan tangan kirinya, kian lama kian cepat.

Beberapa saat kemudian sang guru kembali berkata, “Baik sekarang perhatikan. Jika saya angkat kapur, maka berserulah “Penghapus!”, jika saya angkat penghapus, maka katakanlah “Kapur!”. Dan permainan diulang kembali.

Maka pada mulanya murid-murid itu keliru dan kikuk, dan sangat sukar untuk mengubahnya. Namun lambat laun, mereka sudah biasa dan tidak lagi kikuk. Selang beberapa saat, permainan berhenti. Sang guru tersenyum kepada murid-muridnya.

“Anak-anak, begitulah ummat Islam. Awalnya kalian jelas dapat membedakan yang haq itu haq, yang bathil itu bathil. Namun kemudian, musuh musuh ummat Islam berupaya melalui berbagai cara, untuk menukarkan yang haq itu menjadi bathil, dan sebaliknya.

Pertama-tama mungkin akan sukar bagi kalian menerima hal tersebut, tetapi karena terus disosialisasikan dengan cara-cara menarik oleh mereka, akhirnya lambat laun kalian terbiasa dengan hal itu. Dan kalian mulai dapat mengikutinya. Musuh-musuh kalian tidak pernah berhenti membalik dan menukar nilai dan etika.”

“Keluar berduaan, berkasih-kasihan tidak lagi sesuatu yang pelik, zina tidak lagi jadi persoalan, pakaian seksi menjadi hal yang lumrah, sex sebelum nikah menjadi suatu hiburan dan trend, materialistik kini menjadi suatu gaya hidup, korupsi menjadi kebanggaan dan lain lain. Semuanya sudah terbalik. Dan tanpa disedari, kalian sedikit demi sedikit menerimanya. Paham?” tanya Guru kepada murid-muridnya. “Paham Bu Guru”

“Baik permainan kedua,” Ibu Guru melanjutkan. “Bu Guru ada Qur’an, Bu Guru akan meletakkannya di tengah karpet. Quran itu “dijaga” sekelilingnya oleh ummat yang dimisalkan karpet. Sekarang anak-anak berdiri di luar karpet.

Permainannya adalah, bagaimana caranya mengambil Qur’an yang ada di tengah dan ditukar dengan buku lain, tanpa memijak karpet?” Murid-muridnya berpikir. Ada yang mencoba alternatif dengan tongkat, dan lain-lain, tetapi tak ada yang berhasil.

Akhirnya Sang Guru memberikan jalan keluar, digulungnya karpet, dan ia ambil Qur’an ditukarnya dengan buku filsafat materialisme. Ia memenuhi syarat, tidak memijak karpet.

“Murid-murid, begitulah ummat Islam dan musuh-musuhnya. Musuh-musuh Islam tidak akan memijak-mijak kalian dengan terang-terangan. Karena tentu kalian akan menolaknya mentah-mentah. Orang biasapun tak akan rela kalau Islam dihina dihadapan mereka. Tetapi mereka akan menggulung kalian perlahan-lahan dari pinggir, sehingga kalian tidak sadar. Jika seseorang ingin membuat rumah yang kuat, maka dibina pundasi yang kuat. Begitulah ummat Islam, jika ingin kuat, maka bangunlah aqidah yang kuat. Sebaliknya, jika ingin membongkar rumah, tentu susah kalau fondasinya dahulu. Lebih mudah hiasan-hiasan dinding akan dikeluarkan dahulu, kursi dipindahkan dahulu, lemari dikeluarkan dahulu satu persatu, baru rumah dihancurkan…”

“Begitulah musuh-musuh Islam menghancurkan kalian. Mereka tidak akan menghantam terang-terangan, tetapi ia akan perlahan-lahan meletihkan kalian. Mulai dari perangai, cara hidup, pakaian dan lain-lain, sehingga meskipun kalian itu Muslim, tetapi kalian telah meninggalkan Syari’at Islam sedikit demi sedikit. Dan itulah yang mereka inginkan.”

“Kenapa mereka tidak berani terang-terangan menginjak-injak Bu Guru?” tanya mereka. Sesungguhnya dahulu mereka terang-terang menyerang, misalnya Perang Salib, Perang Tartar, dan lain-lain. Tetapi sekarang tidak lagi. Begitulah ummat Islam. Kalau diserang perlahan-lahan, mereka tidak akan sadar, akhirnya hancur. Tetapi kalau diserang serentak terang-terangan, baru mereka akan sadar, lalu mereka bangkit serentak. Selesailah pelajaran kita kali ini, dan mari kita berdo’a dahulu sebelum pulang…”

Matahari bersinar terik tatkala anak-anak itu keluar meninggalkan tempat belajar mereka dengan pikiran masing-masing di kepalanya.

***

Ini semua adalah fenomena Ghazwul Fikri (perang pemikiran). Dan inilah yang dijalankan oleh musuh-musuh Islam. Allah berfirman dalam surat At Taubah yang artinya:

“Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka, sedang Allah tidak mau selain menyempurnakan cahayaNya, sekalipun orang-orang kafir itu benci akan hal itu.”(QS. At Taubah :32).

Musuh-musuh Islam berupaya dengan kata-kata yang membius ummat Islam untuk merusak aqidah ummat umumnya, khususnya generasi muda Muslim. Kata-kata membius itu disuntikkan sedikit demi sedikit melalui mas media, grafika dan elektronika, tulisan-tulisan dan talk show, hingga tak terasa.

Begitulah sikap musuh-musuh Islam. Lalu, bagaimana sikap kita…?

-Note From Brother Asep Juju-

(anna/muslimazone.com)

Rabu, 10 April 2013

Renung Sesal



Kau sering ada dipikiranku
setiap kali gelisah menyapaku
Kau pun sering ada dalam dzikirku
setiap kali ketakutan membayangiku
nama-Mu selalu muncul disetiap nafasku
kerap kali dalam keterpurukanku

Kau sungguh adalah kekasihku
yang ada dalam setiap butuhku

tapi aku lebih sering lupa pada-Mu
kala tawa menemaniku
aku lebih suka tak menyebut nama-Mu
kala sukses menghampiriku

Ya, aku mengkhianati-Mu....



10 April 2013

aku hanya


aku hanya setumpukan lemah, Kau energiku.

 

aku hanya setumpukan lelah, Kau semangatku.

 

aku hanya setumpukan diam, Kau gerakku.

 

aku hanya setumpukan gelap, Kau terangku.

 

aku hanya setumpukan cela, Kau sempurnaku.

 

aku hanya setumpukan pilu, Kau bahagiaku.

 

aku hanya setumpukan bisu, Kau lantangku.

 

aku hanyalah setumpukan aku, Kau punyaiku.






10 April 2013

Sabtu, 06 April 2013

Proses Pembuatan Kapur Gamping Serbuk


































Eksotisme Gunung jaddih

Assalamualaikum... Dibawah ini adalah beberapa foto yang saya ambil di lokasi penambangan batu kapur di Desa Jaddih Kecamatan Socah Bangkalan, ada beberapa gua yang menurut penduduk sekitar adalah peninggalan masa penjajahan. namun saat ini tidak lebih dari separuh dari gunung kapu ini yang tersisa.











 Stop...!!! dibawah ini foto sahabat saya yang tinggal tidak jauh dari lokasi Gunung Jaddih.Beginilah nasib tuan rumah yang kedatangan tamu lagi ngidam rambutan... hehehehehe.....



Senin, 01 April 2013

Kartunnya Istriku

Assalamu'alaikum.... kali ini yang ditampilkan adalah foto permaisuri tercinta dalam bentuk kartun, setelah beberapa kali mencoba dan beberapa kali belajar tutorialnya akhirnya hasil yang lumayan.
Seperti kata pepatah "berakit-rakit ke hulu berenang-renang ketepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian".  



Selasa, 26 Maret 2013

Ridwan on WPAP-art

                 Assalamu'alaikum shobat..., senang rasanya bisa menyapa kembali... kali ini saya sedang belajar membuat WPAP menggunakan Corel Draw. Sebenarnya keinginan untuk belajar udah dari setahun yang lalu shob, namun masih baru terlaksana sekarang, mungkin karna jadwal kegiatan 'malas'ku yang padat shob... hehehehe :)) Hasilnya shob nilai sendiri wes.. ini hasil pertama saya belajar WPAP. Disini tidak akan saya tulis bagaimana membuat WPAP dengan Corel Draw karena menurut saya sudah banyak tutorial sejenis, shob tinggal nanya aja ke mbah Google etc. :)
                  Di gambar ini saya selipkan tulisan "Life is a Struggle" Hidup adalah Perjuangan, dengan kata-kata ini saya mendefinisikan bahwa hidup di dunia sesungguhnya adalah perjuangan bagi anak Adam demi mendapatkan kebahagiaan hakiki di akhirat kelak, kalau hidup memang untuk berjuang, kita pakai senjata apa??? senjata kita cuma satu shob, 'Sabar'. Sabar dengan artian yang lebih luas, semisal sabar dalam taat melaksanakan kewajiban sebagai hamba, sabar dalam meninggalkan segala keburukan, sabar untuk mendapat ridho Allah. Dengan sedikit bersabar insya Allah kita akan bisa bahagia untuk selamanya karena sebenarnya tidaklah seberapa lama kita hidup di dunia ini jika dibandingkan dengan kekalnya 'kehidupan' setelah 'kematian'.
                 Sekian dulu postingan saya kali ini shob... disambung pada kesempatan berikutnya ya... tetap semangat untuk bersabar... Assalamualaikum.....