Rabu, 12 Januari 2011

Dalam Subuh

adalah kisahku malam ini
hanya mampu terpejam dalam gelisah
terbaring dalam kekalutan jiwa
karena kehampaanku akan dirimu

mengingatmu adalah rindu
memandangmu adalah cinta
membayangkanmu adalah kasih sayang
karena asaku hanya bersamamu

"Asshalatu khoirun minannaum...."

dalam subuh ku terjaga
dari lamunan manis akan masa mendatang
saat seyum itu menemaniku
untuk sekedar mengusir penat.....

Dalam Subuh

adalah kisahku malam ini
hanya mampu terpejam dalam gelisah
terbaring dalam kekalutan jiwa
karena kehampaanku akan dirimu

mengingatmu adalah rindu
memandangmu adalah cinta
membayangkanmu adalah kasih sayang
karena asaku hanya bersamamu

"Asshalatu khoirun minannaum...."

dalam subuh ku terjaga
dari lamunan manis akan masa mendatang
saat seyum itu menemaniku
untuk sekedar mengusir penat.....

Dalam Subuh

adalah kisahku malam ini
hanya mampu terpejam dalam gelisah
terbaring dalam kekalutan jiwa
karena kehampaanku akan dirimu

mengingatmu adalah rindu
memandangmu adalah cinta
membayangkanmu adalah kasih sayang
karena asaku hanya bersamamu

"Asshalatu khoirun minannaum...."

dalam subuh ku terjaga
dari lamunan manis akan masa mendatang
saat seyum itu menemaniku
untuk sekedar mengusir penat.....

Untuk Dinda

Dinda,
kaukah yang meminjamkan cantik pada senja?
kaukah yang memantulkan elok pada mawar?

Dinda siluet hatiku
tanpamu adalah kekeringan jiwa
menggerogoti setiap semangat hidup
hingga habis, tak berbekas.....

Dinda,
kaukah lentera penerang mimpiku?
kaukah selimut yang menghangati lelapku?

Dinda kelopak hatiku
mencintaimu adalah niscaya bagiku
menyemangati setiap inci dari jiwa ini
untuk terus mengibarkan asa....

Untuk Adinda....

Untuk Dinda

Dinda,
kaukah yang meminjamkan cantik pada senja?
kaukah yang memantulkan elok pada mawar?

Dinda siluet hatiku
tanpamu adalah kekeringan jiwa
menggerogoti setiap semangat hidup
hingga habis, tak berbekas.....

Dinda,
kaukah lentera penerang mimpiku?
kaukah selimut yang menghangati lelapku?

Dinda kelopak hatiku
mencintaimu adalah niscaya bagiku
menyemangati setiap inci dari jiwa ini
untuk terus mengibarkan asa....

Untuk Adinda....

Duh, Rabb...

Rabb...
baru kurasa betapa keras hati ini
begitu pekatnya awan hitam menyelimuti
rasa-rasanya tidak mungkin bagiku
sekedar menikmati setitik cahaya

Rabb...
betapa ku telah jauh dari rasa syukur
selalu meronta kekurangan
dalam kekangan nafsu
hingga jauh ku dari-Mu tak terukur

bila terus kutapaki jalan ini
batu-batu itu akan melumpuhkan kakiku
hingga aku jatuh...