Selasa, 29 Maret 2011

Cara Membuat Tempe

Tempe merupakan makanan khas indonesia , selain mengandung protein nabati yang tinggi , juga harganya pun sangat terjangkau , murah dan memasyarakat , kalau selama ini umumnya ibu-ibu rumah tangga membeli tempe dari pasar-pasar atau supermarket , tidak ada salahnya kali ini untuk mencoba membuat sendiri di rumah ... who knows nantinya malah berkembang jadi sebuah usaha rumahan atau home industri

OK , selamat mencoba





peralatan yg diperlukan:
wadah dan panci cukup besar utk merendam dan merebus kedelai
wadah dgn permukaan lebar untuk mencampur ragi dan kedelai (saya menggunakan alas/cetakan yg ada dalam oven)
4bh kantong plastik ukuran 1kg
jarum atau tusuk gigi tuk melubang2i plastik
rak berjeruji (rak yg ada di oven/kulkas) untuk alas tempe bahan:
1kg kedelai, cuci bersih dan rendam di dalam wadah yg cukup besar selama 24jam.
ragi tempe sejumlah yg direkomendasikan pada kemasannya
cara membuat:
setelah direndam permukaan kedelai akan sedikit berbusa2, remas2 kedelai atau gesek2 diantara kedua belah telapak tangan guna melepas sebagian kulit arinya, cuci kedelai dibawah air mengalir agar kulit ari mengambang dan mengalir keluar dgn sendirinya.
sambil membersihkan kedelai didihkan air didalam panci besar, kemudian masukan kedelai yg telah dibersihkan dan rebus hingga empuk, setelah benar2 empuk, angkat dan buang airnya. cuci kedelai dibawah air mengalir sambil diremas2 perlahan utk membuang sisa kulit arinya, kemudian tiriskan hingga kering. jadinya ca 1550g.
atur kedelai didalam wadah dgn permukaan lebar, setelah dingin bubuhi permukaan kedelai dgn ragi tempe, aduk rata, kemudian masukan kedelai yg telah diberi ragi kedalam plastik (300-400g atau sesuai selera), kira2 ketebalan tempe menjadi +2-3cm, tutup rapat ujungnya dgn bantuan api lilin, kemudian tusuk2 bagian atas dan bawah plastik menggunakan jarum ataw tusuk gigi(semakin banyak semakin baik).
atur bungkusan tempe didalam lemari yg telah dialasi rak berjeruji agar ada sirkulasi udaranya, simpan selama 36jam. siap diolah.
catatan:
apabila tdk langsung diolah, dalam wadah siram tempe sesaat stl jadi dgn air mendidih ca 5menit, masukan ke dalam plastik khusus tuk freezer, bekukan dalam freezer.
#1
#2
#3
#4
#5
#6


http://www.kerjainsendiri.com/2009/01/cara-membuat-tempe.html

Senin, 28 Maret 2011

Kisah Tawon dan Elang



Di pagi yang cerah, di antara rindangnya pepohonan, tampak seekor burung elang sedang bermalas-malasan beristirahat di dahan sebatang pohon. Selama beberapa hari burung elang berulang kali hinggap di dahan pohon yang sama karena tertarik mengamati kegiatan segerombolan tawon (lebah) yang terlihat sibuk bekerja bersama-sama membuat sarang yang berjuntai di dahan sebatang pohon.

Tampak seekor tawon sebentar terbang hinggap di antara bunga-bunga hutan yang mekar, mengisap sari madu, dan terbang kembali ke dahan memberikan sari madu ke sarangnya, dan begitu seterusnya. Burung elang dengan tidak sabar menegur seekor tawon yang sedang terbang di dekatnya, "Hai tawon kecil, kamu sibuk terbang dari satu bunga ke tempat sarangmu, memangnya apa yang sedang kamu kerjakan?"

Tawon pun menjawab: "Aku dan kawan-kawan sedang membuat sarang."

"Untuk apa kalian repot membuat sarang sebesar itu? Umur tawon kan sangat pendek. Sudahlah... tidak perlu susah-susah bekerja! Santai-santai saja dan nikmati kehidupanmu yang singkat itu." Demikian burung elang menasihati si tawon.

"Umurku memang tidak sepanjang umurmu burung elang. Tapi justru karena pendeknya waktu yang aku punya, aku tidak boleh menyia-nyiakannya. Aku harus bekerja giat dan lebih rajin agar sarang kami bisa selesai sesingkat umur kami," jawab tawon.

"Untuk apa sarangmu harus diselesaikan cepat-cepat, toh kamu akan segera mati," elang menanggapi dengan cepat. "Toh akhirnya, kamu pun tidak bisa menikmati sarang yang telah dibuat dengan susah payah"

"Hahaha, tuan elang yang gagah dan berumur panjang, kasihan sekali caramu berpikir. Justru umur kami yang singkat inilah yang harus kami hargai dengan sungguh-sungguh. Kami memang makhluk kecil dan berumur pendek, tetapi kami bangga dan bahagia karena bisa berarti bagi makhluk lain yaitu dengan memberi semua hasil kerja keras yang telah dilakukan seumur hidup kami. Itulah arti keberadaan kami," pungkas tawon kecil sambil terbang berlalu.

Mendengar ucapan tawon kecil, si burung elang terdiam. Ia tidak mampu berkata-kata lagi dan bersombong diri. Ternyata di balik penampilan makhluk yang kecil dan berumur pendek, kehidupan mereka pun memiliki arti tersendiri.

Netter yang luar biasa,

Seberapa pun panjang dan pendeknya sebuah kehidupan, itu adalah misteri alam yang maha kuasa. Sebagai manusia, kita tidak pernah tahu kapan waktu kita akan berakhir. Tetapi jika di setiap penggal waktu yang kita punya, kita berdedikasi untuk melakukan yang terbaik serta mampu bertanggung jawab atas kehidupan kita sendiri, apalagi juga bermanfaat bagi orang lain, niscaya tiap tiap hari yang kita jalani adalah hari yang penuh gairah, gembira, optimis, produktif, dan dinamis!

Salam Sukses Luar Biasa!!!

"Kami bangga dan bahagia 
karena bisa berarti bagi makhluk lain 
yaitu dengan memberi semua hasil 
kerja keras yang telah dilakukan 
seumur hidup kami. Itulah arti 
keberadaan kami," pungkas tawon kecil"

Andrie Wongso

http://www.infopenting.com/2010/09/kisah-tawon-dan-elang.html

Bendera - Cokelat (Lirik Lagu)

biar saja ku tak seindah matahari
tapi selalu ku coba tuk menghangatkanmu
biar saja ku tak setegar batu karang
tapi selalu ku coba tuk melindungimu

biar saja ku tak seharum bunga mawar
tapi selalu ku coba tuk mengharumkanmu
biar saja ku tak seelok langit sore
tapi selalu ku coba tuk mengindahkanmu

ku pertahankan kau demi kehormatan bangsaku
ku pertahankan kau demi tumpah darah
semua pahlawan-pahlawanku

* merah putih teruslah kau berkibar
  di ujung tiang tertinggi di indonesiaku ini
  merah putih teruslah kau berkibar
  di ujung tiang tertinggi di indonesiaku ini
  merah putih teruslah kau berkibar
  ku akan selalu menjagamu

Cerita Pendek Semut dan Belalang



Pada siang hari di akhir musim gugur, satu keluarga semut yang telah bekerja keras sepanjang musim panas untuk mengumpulkan makanan, mengeringkan butiran-butiran gandum yang telah mereka kumpulkan selama musim panas. Saat itu seekor belalang yang kelaparan, dengan sebuah biola di tangannya datang dan memohon dengan sangat agar keluarga semut itu memberikan sedikit makan untuk dirinya.
“Apa!” teriak sang Semut dengan terkejut, “tidakkah kamu telah mengumpulkan dan menyiapkan makanan untuk musim dingin yang akan datang ini? Selama ini apa saja yang kamu lakukan sepanjang musim panas?”
“Saya tidak mempunyai waktu untuk mengumpulkan makanan,” keluh sang Belalang; “Saya sangat sibuk membuat lagu, dan sebelum saya sadari, musim panas pun telah berlalu.”
Semut tersebut kemudian mengangkat bahunya karena merasa gusar.
“Membuat lagu katamu ya?” kata sang Semut, “Baiklah, sekarang setelah lagu tersebut telah kamu selesaikan pada musim panas, sekarang saatnya kamu menari!” Kemudian semut-semut tersebut membalikkan badan dan melanjutkan pekerjaan mereka tanpa memperdulikan sang Belalang lagi.
Ada saatnya untuk bekerja dan ada saatnya untuk bermain.

http://www.ceritakecil.com/cerita-dan-dongeng/Semut-dan-Belalang-43

Semut yang Berhemat

Di zaman Mesir kuno, hiduplah seorang raja yang sangat terkenal keadilannya. Raja tersebut sangat mencintai rakyatnya. Bahkan raja tersebut dalam mencinta keluarganya tidak melebihi cintanya pada rakyatnya. Sehingga kalau ada anggota keluarganya yang bersalah tetaplah di hukum sebagaimana orang lain. Yang lebih istimewa lagi, raja ini juga penyayang binatang.
Karena cintanya pada binatang, suatu hari raja yang adil itu pergi berjalan-jalan menemui seekor semut. Si semut merasa senang dan bangga mendapat kunjungan dari raja. "Bagaimana kabarmu, semut?" tanya sang Raja. "Hamba baik-baik saja Baginda," jawab semut gembira. "Dari mana saja kau pergi?" "Hamba sejak pagi pergi ke beberapa tempat tetapi belum juga mendapatkan makanan, Baginda." "Jadi sejak pagi kau belum makan?" "Benar, baginda." Raja yang adil itu pun termenung sejenak. Kemudian berkata, "Hai, semut. Beberapa banyak makanan yang kau perlukan dalam setahun?" "Hanya sepotong roti saja baginda," jawab semut. "Kalau begitu maukah kau kuberi sepotong roti untuk hidupmu setahun?" "Hamba sangat senang, Baginda." "Kalau begitu, ayo engkau kubawa pulang ke istana," ujar Raja, lalu membawa semut itu ke istananya. Semut sangat gembira karena mendapatkan anugerah makanan dari sang raja. Ia tidak susah-susah lagi mencari makanan dalam setahun. Dan tentu saja roti pemberian sang raja akan lebih manis dan enak."Sekarang engkau masuklah ke dalam tabung yang telah kuisi sepotong roti ini!" perintah sang raja. "Terimakasih, Baginda. Hamba akan masuk." "Setahun yang akan datang tabung ini baru akan kubuka," ujar sang raja lagi."Hamba sangat senang, Baginda." Tabung berisi roti dan semut itu pun segera ditutup rapat oleh sang raja. Tutup tabung itu terbuat dari bahan khusus, sehingga udara tetap masuk ke dalamnya. Tabung tersebut kemudian disimpan di ruang khusus di dalam istana.



Hari-hari berikutnya sang raja tetap memimpin rakyatnya. Berbagai urusan ia selesaikan secara bijaksana. Akhirnya setelah genap setahun, teringatlah sang raja akan janjinya pada semut. Perlahan-lahan raja membuka tutup tabung berisi semut itu. Ketika tutup terbuka, si semut baru saja menikmati roti permberian raja setahun lalu."Bagaimana kabarmu, semut?" tanya sang raja ketika matanya melihat semut di dalam tabung. "Keadaan hamba baik-baik saja, Baginda." "Tidak pernah sakit selama setahun di dalam tabung?" "Tidak baginda. Keadaan hamba tetap sehat selama setahun." Kemudian sang raja termenung sejenak sambil melihat sisa roti milik semut di dalam tabung. "Mengapa roti pemberianku yang hanya sepotong masih kau sisakan separuh?" tanya sang raja. "Betul, Baginda." "Katanya dalam setahun kau hanya memerlukan sepotong roti. Mengapa tak kau habiskan?" "Begini, Baginda. Roti itu memang hamba sisakan separuh. Sebab hamba khawatir jangan-jangan Baginda lupa membuka tutup tabung ini. Kalau Baginda lupa membukanya, tentu saja hamba masih dapat makan roti setahun lagi. Tapi untunglah Baginda tidak lupa. Hamba senang sekali." Sang raja sangat terkejut mendengar penjelasaan si semut yang tahu hidup hemat. Sang raja tersenyum kecil di dekat semut. "Kau semut yang hebat. Kau dapat menghemat kebutuhanmu. Hal ini akan kusiarkan ke seluruh negeri agar rakyatku dapat mencotohmu. Kalau semut saja dapat menghemat kebutuhannya, mengapa manusia justru gemar hidup boros?""Sebaiknya Baginda jangan terlalu memuji hamba," jawab si semut. Semut itu akhirnya mendapat hadiah lagi dari raja. Sebagai tanda terimakasih karena telah mengajarinya hidup hemat


hayuuu....
belajar dari semut yukz ....


Kisah Anak Kerang

Pada suatu hari seekor anak kerang di dasar laut mengadu dan mengaduh pada ibunya sebab sebutir pasir tajam memasuki tubuhnya yang merah dan lembek. Anakku, kata sang ibu sambil bercucuran air mata, Tuhan tidak memberikan pada kita bangsa kerang sebuah tanganpun, sehingga Ibu tak bisa menolongmu. Sakit sekali, aku tahu anakku. Tetapi terimalah itu sebagai takdir alam. Kuatkan hatimu. Jangan terlalu lincah lagi. Kerahkan semangatmu melawan rasa ngilu dan nyeri yang menggigit. Balutlah pasir itu dengan getah perutmu. Hanya itu yang bisa kau perbuat, kata ibunya dengan sendu dan lembut. Anak kerang pun melakukan nasihat bundanya. Ada hasilnya, tetapi rasa sakit bukan alang kepalang. Kadang di tengah kesakitannya, ia meragukan nasihat ibunya. Dengan air mata ia bertahan, bertahun-tahun lamanya.

Tetapi tanpa disadarinya sebutir mutiara mulai terbentuk dalam dagingnya. Makin lama makin halus. Rasa sakit pun makin berkurang. Dan semakin lama mutiaranya semakin besar. Rasa sakit menjadi terasa lebih wajar. Akhirnya sesudah sekian tahun, sebutir mutiara besar, utuh mengkilap, dan berharga mahal pun terbentuk dengan sempurna. Penderitaannya berubah menjadi mutiara; air matanya berubah menjadi sangat berharga. Dirinya kini, sebagai hasil derita bertahun-tahun, lebih berharga daripada sejuta kerang lain yang cuma disantap orang sebagai kerang rebus di pinggir jalan.

***

Cerita di atas adalah sebuah paradigma yg menjelaskan bahwa penderitaan adalah lorong transendental untuk menjadikan "kerang biasa" menjadi "kerang luar biasa." Dengan itu dipertegas bahwa kekecewaan dan penderitaan dapat mengubah "orang biasa" menjadi "orang luar biasa." Itulah yang terjadi pada orang-orang seperti Abraham Lincoln, Nelson Mandela, Mahatma Gandhi, Kim Dae Jung, dan A.H. Nasution. Jadi jika Anda sedang menderita hari ini, apa pun sebabnya, saya sarankan: bersiap-siaplah menjadi "orang luar biasa."

Minggu, 20 Maret 2011

Bermodal Berani, Akhirnya Jadi Raja Tinta Pilkada

Seorang entrepreneur harus mampu melihat peluang di depan mata, menganalisa, dan kemudian mengambil tindakan. Hal itulah yang dilakukan pengusaha tinta khusus untuk pemilihan umum dan pilkada Slamet Riyadi.

Diawali keberaniannya mengajukan pinjaman Rp50 juta dari sebuah bank nasional pada 2004 lalu. Kini Slamet telah memiliki aset lebih dari Rp2 miliar. Pada 2004 lalu, Slamet memutuskan berhenti dari perusahaan tempat dia bekerja sebagai Manager Marketing di PT Indokor.

Awal 2004, saat pemilu dan pilpres berlangsung, temannya yang memenangkan tender tinta pilpres meminta Slamet menjadi konsultan, sekaligus sebagai formulator tinta. Setelah melihat kesuksesan rekannya, bapak tiga anak ini kemudian berpikir untuk membuka usaha pengadaan tinta sendiri pada pemilihan presiden tahap II. Kendala pertama yang dihadapi adalah ketersediaan dana yang minim.

”Saat itu, saya tidak mempunyai modal dan memberanikan diri mengajukan pinjaman sebesar Rp50 juta dari BRI. Awalnya, mereka enggan memberikan, tapi setelah mengatakan besarnya peluang dan profit margin yang bagus, akhirnya BRI memberikan pinjaman,” paparnya saat ditemui di tempat usahanya, Depok.

Feeling lulusan teknik kimia UPN Yogyakarta ini ternyata tidak salah. Setelah memenangkan tender pertamanya, seiring dengan semakin banyaknya pelaksanaan pilkada, pada 2005, kebutuhan tinta untuk pilkada semakin meningkat. Saat itulah Slamet membuka usaha CV Kharisma Chemindo dan mengikuti tender pengadaan tinta pilkada yang diadakan KPUD di berbagai daerah di Indonesia.

Dengan keahlian dan kemampuannya membuat formula tinta, dia berkali-kali memenangi tender di berbagai daerah, dan dikenal sebagai Raja Tinta Pilkada di Indonesia dengan omzet mencapai miliaran rupiah. Karena bisnis yang digelutinya terkait dengan pilkada, Slamet pun sangat hafal jadwal pelaksanaan pilkada di Indonesia.

Hal itu tidak terlepas dari strategi yang dilakukan Slamet, di antaranya dengan menggandeng pemain lokal dan meminta mereka mengikuti tender. Setelah memenangkan tender, pemain lokal akan membeli tinta pilkada dari perusahaannya.

Ini tidak terlepas dari kebijakan pemerintah daerah yang lebih mengutamakan pemain lokal. Hanya dalam waktu satu tahun, Slamet memutuskan untuk mengakuisisi pabrik pembuatan tinta berskala kecil di kawasan Bekasi dengan nilai Rp1 miliar.

Sekaligus mendaftarkan tinta yang kemudian diberikan branch Indoink itu kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk mendapatkan sertifikat halal dan BPOM untuk mendapatkan sertifikat sehat. Keberadaan pabrik dan sertifikat ternyata membuat margin keuntungan yang diperoleh Slamet semakin tinggi, yakni berkisar 40 persen.

Suatu ketika, Slamet membaca sebuah artikel yang mengatakan bahwa Amerika Serikat tidak mempergunakan tinta dalam pemilu. Hal itu membuat Slamet semakin kreatif dalam menghasilkan sejumlah produk tinta di antaranya adalah tinta whiteboard dan tinta printer.

Saya membaca sebuah buku yang menyebutkan dalam berbisnis, kita harus memperdalam beberapa produk. Dari situ saya mengembangkan produk lain seperti tinta isi ulang whiteboard dan printer. Jadi, kalau suatu saat nanti pemerintah mengeluarkan kebijakan pilkada tidak pakai tinta. Saya sudah siap,” ungkapnya.

Tidak puas dengan pasar lokal, pada 2011 ini, Slamet sudah mencanangkan untuk bisa masuk ke pasar regional. Usahanya tidak sia-sia. Pada beberapa waktu lalu, dirinya dan beberapa perusahaan tinta di Indonesia ditunjuk sebagai pemasok tinta pemilu di Nigeria.

CV Kharisma Chemindo mendapatkan jatah sebanyak 300 ribu botol tinta senilai Rp3 miliar. Sekarang sedang mengincar pengadaan tinta pemilu di Mesir dan telah mengirimkan surat melalui kedutaan agar bisa dibantu.

Di sisi lain, Slamet juga terus melakukan inovasi terhadap produk yang dikembangkan. Karena itu, Slamet kembali melakukan akuisisi sebuah pabrik berskala menengah di Cikarang untuk memproduksi tinta untuk pilkada, serta berbagai produk untuk keperluan rumah tangga seperti sabun cuci cair, sabun mandi cair, sampo, cleaner untuk lantai dan toilet, serta berbagai kebutuhan rumah tangga lainnya.

”Sabun cuci piring, pelembut pakaian, karbol, pembersih lantai, detergen cair, dan sampo merupakan kebutuhan dasar yang dikonsumsi setiap rumah tangga, hotel, rumah makan, maupun rumah sakit. Produk ini juga dipakai berulang ulang. Potensi pasarnya besar sehingga tercipta permintaan pasar yang luar biasa. Apalagi jumlah penduduk Indonesia lebih besar akan menjadi peluang bisnis yang baik,” paparnya.

Karena itu, Slamet telah menganggarkan dana yang tidak sedikit untuk biaya research. Waktu yang dibutuhkan pun tidak sedikit, yakni sekira satu bulan. Namun, dia mengaku biaya dan waktu yang dikeluarkan untuk research akan sebanding dengan margin keuntungan diperolehnya, yakni lebih dari 50 persen.

Hampir setiap waktu Slamet harus memperbarui teknologi yang dipergunakan agar tidak ketinggalan zaman. Hal itu salah satunya adalah sabun motor yang berwarna hijau atau biru. Kendati fungsinya hampir sama dengan yang biasa, konsumen lebih menyukai sabun motor yang berwarna. Semua produk di luar tinta diberikan branch “DNN” yang berasal dari inisial anak Slamet. Sebetulnya dalam industri ini, orang tidak harus pandai.

Yang dibutuhkan adalah action. Inilah yang ditakuti banyak orang. Karena di sini bermain masalah uang, banyak yang takut rugi. Karena itulah, Slamet berpesan bagi yang ingin memulai usaha sebaiknya langsung melakukan action. Usaha dapat dimulai dari sekala kecil dan modal terjangkau. Artinya, jumlah yang diproduksi disesuaikan dengan jumlah modal yang dimiliki dan peralatan. ( hermansah )(Koran SI/Koran SI/ade)